Senin, 12 Maret 2018

Melihat Prospektus IPO Gihon Telekomunikasi Indonesia

Pada bulan April nanti Bursa Efek Indonesia akan kedatangan emiten baru yaitu PT Gihon Telekomunikasi Indonesia yang rencananya akan listing pada tanggal 9 April 2018 di BEI. Sebelumnya juga ada emiten yang bergerak pada bidang yang sama yaitu konstruksi menara telekomunikasi yaitu PT LCK Global Kedaton Tbk. (LCKM) yang mencatatkan diri di bursa pada tanggal 16 Januari 2018. Industri telekomunikasi sedang berkembang dan ini menjadi prospek yang bagus untuk mengembangkan usaha. Gihon akan melepaskan 33,49% dari modalnya atau sebanyak 200 juta lembar saham dengan harga Rp 1100 sampai Rp 1300 per lembarnya. Dari aksi ini maka perseroan akan mampu mengumpulkan dana sebesar Rp 220 miliar hingga Rp 260 miliar. Berikut ini prospeknya dari ringkasan yang ada di prospektusnya:

Logo Gihon Telekomunikasi Indonesia


Sekilas Mengenai PT Gihon Telekomunikasi Indonesia
PT. Gihon Telekomunikasi Indonesia didirikan di Jakarta pada tanggal 27 April 2001, dengan bidang usaha utamanya yaitu Tower Telekomunikasi. Tim inti memiliki pengalaman di Tower and Cellular Industri sejak tahun 1996. Layanan utama Gihon meliputi Jasa Teknik, Desain, Konstruksi, Instalasi dan Integrasi Jaringan, yang didedikasikan untuk Industri Telekomunikasi. Saat ini Gihon telah menjadi Perusahaan Investasi dengan mengembangkan Portofolio di Industri Leasing Tower, Utilitas, Mikrokontroler, Serat Optik dan Jaringan Aktif.

Kegiatan Usaha
Kegiatan usaha PT Gihon Telekomunikasi meliputi:
Penyewaan tower space pada menara telekomunikasi/ tower space leasing 
Kegiatan usaha utama Perseroan adalah penyewaan tower space pada menara telekomunikasi yang dimiliki oleh Perseroan. Perseroan menyewakan tower space kepada operator telekomunikasi untuk keperluan transmisi sinyal suara (voice) dan data nirkabel.

Pendapatan sewa menara
Pendapatan sewa dibayarkan dimuka secara bulanan, kuartalan atau tahunan oleh penyewa menara telekomunikasi Perseroan. Pendapatan sewa rata-rata yang diterima dari penyewa baru pada umumnya bersifat tetap (fixed) sepanjang periode sewa awal dan jumlahnya dapat bervariasi berdasarkan faktor berikut ini :
• Lokasi menara telekomunikasi (termasuk biaya sewa lahan);
• Jumlah peralatan antena milik penyewa yang diletakkan pada menara;
• Spesifikasi shelter dan ground space yang diperlukan untuk menempatkan peralatan elektronik dan lainnya untuk antena;
• Ketentuan pembayaran;
• Tipe dan ketinggian menara;
• Penempatan antena pada menara telekomunikasi.
Perseroan sangat bergantung pada kontrak jangka panjang dengan pelanggan Perseroan. Salah satu faktor risiko usaha Perseroan adalah pendapatan Perseroan bergantung pada pendaparan sewa jangka panjang dari pelanggan Perseroan.

Pendapatan pemeliharaan menara
Perseroan juga menerima pembayaran atas biaya pemeliharaan. Pendapatan pemeliharaan merupakan pendapatan tetap (fixed), untuk biaya keamanan, perbaikan dan pemeliharaan sites menara serta back-up listrik. Pendapatan pemeliharaan juga diterima dimuka secara bulanan, kuartalan atau tahunan dari penyewa menara.

Sewa lahan untuk sites menara telekomunikasi
Sebagian besar sites menara telekomunikasi berdiri di atas sebidang lahan yang disewa oleh Perseroan melalui perjanjian sewa lahan atau perjanjian sewa gedung dengan pemilik properti. Perseroan pada umumnya memiliki Perjanjian Sewa Tanah dengan jangka waktu 10 - 12 tahun, sedangkan jangka waktu perjanjian antara Perseroan dengan penyewa pada umumnya adalah 10 tahun. Perseroan berusaha untuk menghindari perlunya melakukan perpanjangan Perjanjian Sewa Tanah selama masa sewa tower space pada properti yang terkait. Biaya sewa lahan pada umumnya telah seluruhnya dibayar dimuka untuk jangka waktu perjanjian. Biaya sewa lahan kemudian diamortisasi sesuai dengan periode perjanjian sewa lahan. Dikarenakan pembayaran sewa lahan dimuka umumnya cukup signifikan dibandingkan dengan nilai properti, Perseroan berkeyakinan bahwa sewa lahan akan mudah untuk dilakukan dan diperpanjang.

Biaya Operasional
Beban operasional Perseroan utamanya terdiri dari biaya perbaikan dan pemeliharaan, kompensasi dan biaya manfaat karyawan dan utilitas, seperti biaya listrik untuk mengoperasikan peralatan antena pada sites menara Perseroan, yang kebanyakan dibayarkan langsung oleh penyewa. Biaya operasional pada umumnya meningkat sejalan dengan tingkat inflasi, dan bertambah seiring dengan penambahan jumlah penyewaan. Dikarenakan biaya-biaya tersebut relatif tetap (fixed), biaya operasional tambahan untuk penambahan kolokasi relatif lebih kecil. Portofolio sites Perseroan memiliki kebutuhan belanja modal yang minimal, kecuali untuk perkuatan fisik menara pada menara tertentu yang telah mencapai kapasitas strukturnya.

Prospek Usaha
Peningkatan yang kuat dari jumlah BTS dan menara telekomunikasi selama beberapa tahun terakhir dipicu oleh peningkatan lalu lintas komunikasi suara dan data, pergeseran dari komunikasi suara ke data, permintaan konsumen untuk kualitas yang lebih tinggi dan pergeseran teknologi dari 2G ke 3G kemudian ke 4G LTE. Penyelesaian refarming frekuensi 1.800 MHz pada akhir 2015, akan membuka jalan bagi peluncuran nasional layanan 4G LTE. Operator telah mulai menawarkan layanan 4G di kota-kota tertentu dan meningkatkan infrastruktur untuk memperluas cakupan nasional. Hal ini akan membantu memicu peningkatan permintaan tambahan menara telekomunikasi sejalan dengan pembangunan jaringan operator. 

Perusahaan penyewaaan menara telekomunikasi independen telah mengambil pangsa pasar yang signifikan selama tiga tahun terakhir dan akan terus meningkatkan pangsa pasar mereka karena operator utama seperti Telkomsel, XL Axiata dan Indosat Ooredoo tidak berfokus dalam membangun menara tambahan. Operator tersebut mengalihkan pembangunan menara kepada perusahaan menara independen untuk mengurangi biaya belanja modal mereka, sehingga menciptakan potensi pertumbuhan yang besar untuk perusahaan menara independen yang telah mapan. Perseroan berkeyakinan bahwa hampir seluruh pertumbuhan menara baru akan diarahkan kepada perusahaan menara independen. Secara umum, kolokasi pada menara yang dimiliki oleh perusahaan menara independen lebih tinggi dibandingkan kolokasi pada menara yang dimiliki perusahaan telekomunikasi terutama kerena status independen dari perusahaan menara independen. Karenanya, Perseroan memperkirakan bahwa mayoritas pembangunan dari operator telekomunikasi akan menguntungkan perusahaan – perusahaan menara independen. 

Perseroan berkeyakinan bahwa struktur industri penyewaan menara cukup menarik untuk jangka panjang karena pelanggan cenderung memperpanjang kontrak penyewaan dengan mempertimbangkan biaya yang tinggi untuk relokasi peralatan. Hilangnya pendapatan dari relokasi peralatan dan perubahan konfigurasi jaringan juga menjadi faktor tambahan yang penting dalam hal ini. Meskipun industri penyewaan menara di Indonesia pada umumnya belum melalui tahapan perpanjangan kontrak, Perseroan berkeyakinan bahwa tingkat perpanjangan kontrak historis yang tinggi di pasar lain seperti Amerika Serikat merupakan indikator yang kuat akan kemungkinan perpanjangan kontrak penyewaan menara di Indonesia.

Kinerja Gihon Telekomunikasi Sebelum IPO
Dilihat secara sekilas pendapatan Gihon selalu meningkat setiap tahun. Pendapatan Perseroan naik sebesar 18.94% menjadi Rp67.764 juta untuk periode 9 (sembilan) bulan yang berakhir 30 September 2017 dari Rp56.975 juta untuk periode 9 (sembilan) bulan yang berakhir 30 September 2016 dikarenakan oleh peningkatan pendapatan sewa sehubungan dengan penambahan jumlah menara yang efektif di tahun 2017 yaitu sebanyak 46 new sites dan 8 kolokasi. Laba komprehensif tahun berjalan Perseroan naik sebesar 123,61% menjadi Rp21.534 juta untuk periode 9 (sembilan) bulan yang berakhir 30 September 2017 dari Rp9.630 miliar untuk periode 9 (sembilan) bulan yang berakhir 30 September 2016. Kinerja ini cukup baik dan menunjukkan pertumbuhan setiap tahunnya.

Valuasi Harga Saham
Gihon menawarkan sahamnya di harga Rp 1100 hingga Rp 1300. Bila seandainya diukur dari kinerja keuangannya di tahun penuh 2016 maka Gihon akan memiliki valuasi PER 73,5x hingga 86x. Namun pada periode September di tahun 2017 Gihon membukukan laba bersih yang meningkat drastis hingga 130% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2016. Bila melihat laporan keuangan yang baru maka Gihon bisa dihargai dengan PER 30,6x hingga 36x yang artinya cukup premium. Sebagai pembanding saja TOWR dihargai dengan PER 14,6x dan TBIG memiliki PER 23,7x di harga sekarang. Ketika LCK Global Kedaton (LCKM) IPO di harga 208, LCKM dihargai dengan PER 20,8. Ini artinya saham Gihon cukup mahal dibandingkan dengan yang lain.

Kesimpulan:
Sektor infrastruktur telekomunikasi sedang berkembang pesat sehingga banyak perusahaan yang berekspansi. Gihon telekomunikasi memiliki kinerja yang lumayan terutama di akhir tahun 2017 namun harga sahamnya di rentang 1100-1300 cukup tinggi dan kurang menarik apabila dilihat dari kinerjanya sebelum IPO. Prospektusnya bisa dilihat disini

PS: Ini hanyalah sekedar info untuk para investor. Risiko dalam berinvestasi ditanggung sendiri oleh masing-masing investor. Info ini hanya berbentuk opini berdasarkan fakta-fakta yang ada. 
Dislaimer ON!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar