Jumat, 02 Maret 2018

Pengertian Reverse Stock Split

Apa itu Reverse Split?
Kebalikan dari stock split, reverse stock split merupakan tindakan korporasi menggabungkan beberapa saham menjadi satu saham. Dengan adanya reverse stock split jumlah lembar saham akan menurun dan nilainya meningkat per lembarnya. Meskipun nilainya terlihat meningkat namun nilai real dari saham tersebut memiliki nilai total yang sama. Misalnya anda memiliki 4 lembar kertas yang berukuran 25 cm2 yang berarti nilai totalnya 100 m2. Lalu anda gabung keempat kertas tersebut menjadi satu kertas maka luasnya tetaplah 100 m2. Hal inilah yang sebenarnya terjadi pada reverse stock split.

Reverse Stock Split


Melihat Reverse Stock Split Lebih Dalam
Misalkan saja sebuah perusahaan ABCD memiliki 100 juta lembar saham dengan nilai Rp 100 per lembar sahamnya maka nilai kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 10 miliar. Lalu manajemen perusahaan ABCD memutuskan untuk melakukan reverse stock split sebesar 10:1 yang artinya 10 lembar saham menjadi 1 lembar saham. Setelah dilakukan reverse stock split jumlah lembar sahamnya menjadi 10 juta lembar dan harganya menjadi Rp 1.000 per lembar. Nilai kapitalisasi pasarnya tetap Rp 10 miliar.

Lalu mengapa perusahaan melakukan reverse stock split?

1. Memenuhi Syarat atau Kriteria Tertentu
Sekarang ini batas bawah dari saham di Bursa Efek Indonesia adalah 50 namun jika sewakt-waktu aturan nilai minimum dari saham berubah dan naik maka emiten yang sahamnya di harga 50 harus melakukan stock split untuk memenuhi syarat. Selain itu emiten yang sahamnya di harga 50 akan kesulitan dalam melakukan right issue karena harganya di paling bawah tidak mencerminkan nilai perusahaan secara real dan reputasi yang buruk. Oleh karena itu biasanya sebelum melakukan right issue emiten di harga 50 melakukan reverse stock split untuk menghilangkan kategori tersebut.

2. Meningkatkan Reputasi Saham
Saham dengan harga yang rendah kerap kali dikenal dengan saham yang kecil atau gorengan. Di harga yang kecil saham bisa dikatakan berada pada second liner atau third liner dan hal tersebut dapat membuat jelek reputasi dari sebuah perusahaan. Secara psikologi dengan melakukan reverse stock split maka reputasi perusahaan bisa meningkat karena sahamnya terlihat mahal dan seperti blue chip. Kendati demikian hal ini tidaklah memiliki efek secara real karena nilai kapitalisasinya yang tetap.

Kesimpulan:
Sangat jarang perusahaan yang melakukan reverse stock split jika tidak terpaksa karena hal tersebut bisa mengurangi likuiditas pada perdagangan saham. Banyak investor yang terkecoh pada reverse stock split dengan mengira bahwa nilai harga sahamnya meningkat dan harganya menjadi mahal. Padahal sejatinya sama seperti stock split, tindakan korporasi ini tidak memberikan nilai yang nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar