Sabtu, 24 Maret 2018

Siklus 10 Tahunan Membayangi IHSG di 2018

Dari awal tahun hingga Maret ini pasar saham global telah terkoreksi secara besar-besaran. Di Amerika Serikat indeks S&P 500 sudah turun -4% dari awal tahun di Eropa indeks FTSE turun -9,5%. Di wilayah Asia indeks Nikkei 225 turun -12,3% dan Shanghai Composite index turun -5,8%. Sedangkan IHSG sendiri sudah turun -2% dari awal tahun. Bisa dibilang kuartal pertama pada tahun 2018 ini bursa baik domestik maupun global mencatatkan kinerja yang negatif. Ketidakpastian global semakin meningkat dan ancaman siklus 10 tahunan kembali mengancam Bursa Efek Indonesia dan terlihat semakin nyata. Siklus 10 tahunan ini dianggap sebagai siklus ekonomi untuk pasang dan surut serta pola dari bursa saham.

Krisis Crisis

Siklus 10 Tahunan
Percaya atau tidak percaya siklus 10 tahunan menjadi hal baru yang menjadi momok menakutkan. Seperti namanya siklus 10 tahunan ini merupakan siklus yang ada setiap sepuluh tahun atau satu dekade. Nama ini baru-baru muncul setelah terjadi krisis global di tahun 2008 yang dikaitkan dengan krisis moneter di tahun 1998. Secara sekilas setelah krismon 1998 krisis kembali terulang tepat dalam waktu 10 tahun yaitu pada 2008 dan oleh karena itu banyak yang mengkhawatirkan bahwa di tahun 2018 ini siklus tersebut dapat terulang. Polanya sama yakni dalam 10 tahun bursa saham akan mengalami kenaikan pesat hingga di akhir dekade bursa saham akan jatuh dengan sangat dalam hingga lebih dari -50% dalam setahun. Lalu bagaimana dengan 1988? Di tahun 1988 Bursa Efek di Indonesia tidak sebesar sekarang dan masih sangat sedikit emiten yang tercatat dulunya sehingga tahun 1988 tidak bisa menjadi tolak ukur. Namun "Black Monday 1987" terjadi di Amerika Serikat yang menyebabkan turunnya saham-saham US dalam puluhan persen hanya dalam waktu satu bulan saja. Siklus 10 tahunan ini hanya sebuah perkiraan saja dengan mengaitkan waktu dan kondisi yang ada di pasar.


Kendati siklus 10 tahunan terdengar seperti mitos dan peramalan yang asal-asalan namun tanda-tandanya semakin terlihat jelas di tahun 2018 ini. Hal ini semakin mengkhawatirkan bahwa siklus tersebut dapat terjadi kembali. Tanda-tanda tersebut lebih cenderung berasal dari global dibandingkan dengan domestik. Pemburukan global sangat berdampak pada IHSG karena dana di IHSG masih dapat dikendalikan oleh investor asing sehingga apabila investor asing keluar dari IHSG maka IHSG akan turun seiring dengan penjualan saham-saham oleh investor asing. Tanda-tanda siklus 10 tahunan semakin terlihat jelas dan berikut ini adalah sentimen negatifnya:


1. Bubble Pada Pasar Saham di Amerika Serikat
Kenaikan panjang di indeks saham Amerika Serikat bukan hanya memberikan berita baik namun juga berita buruk. Dengan kenaikan yang besar dalam jangka waktu 10 tahun terakhir ini membuat saham di Amerika Serikat dihargai dengan sangat mahal. Saham-saham blue chip di Amerika Serikat biasa dihargai dengan PER diatas 40 dan itu artinya saham-saham di Amerika Serikat sudah sangat mahal. Morgan Stanley memprediksi bahwa indeks saham di Amerika Serikat hanya akan memberikan imbal hasil 4,2% pertahun dalam rata-rata pada 10 tahun mendatang. Hal itu karena harga-harga saham di Amerika Serikat yang melonjak terlalu tinggi melebihi pertumbuhan laba bersihnya. Kondisi ini seperti di tahun 2000 saat harga saham di Amerika Serikat sangat mahal karena bubble dot com dan hasilnya memang indeks saham di Amerika Serikat tidak bergerak dalam 10 tahun dari tahun 2000.

2. Pasar Saham USA Sudah Di Level Koreksi
Di bulan Maret ini pasar saham Amerika Serikat sudah berdarah-darah. Indeks S&P 500 sudah turun -6,8% dalam satu bulan ini.  Kendati masih jauh dari level penurunan secara double digit namun penurunan tersebut sudah bisa dikatakan sebagai koreksi. Namun tidak ada yang tahu apakah hal tersebut hanyalah sebatas koreksi atau sebuah awal menuju crash dalam pasar. Hal itu karena penurunan dengan crash diawali oleh penurunan kecil yaitu koreksi. Bila penurunan ini berlanjut hingga lebih dari 10% maka kenaikan panjang bull market di Amerika Serikat akan patah dan membuatnya semakin jelas terjadi crash.

3. Rupiah Melemah
Nilai tukar rupiah terhadap dollar di awal tahun ini fluktuatif namun cenderung melemah. Kendati rupiah sempat menguat dari level 13.500 ke level 13.300 namun sekarang rupiah melemah ke level 13.750. Kendati BI tidak menetapkan target rupiah dan hanya ingin membuat rupiah stabil namun APBN 2018 mengasumsikan nilai tukar rupiah di level 13.400 sehingga nilai tukar rupiah saat ini lebih lemah dibandingkan asumsi APBN. Suku bunga the Fed sudah naik beberapa hari yang lalu dari 1,5% menjadi 1,75% hal ini membuat nilai US Dollar menjadi lebih menarik dibandingkan sebelumnya. Nampaknya BI memiliki PR yang berat dalam menyetabilkan rupiah di tahun ini karena kebijakan the Fed yang cenderung akan menaikkan ratenya karena pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat yang meningkat.

4. Kebijakan Donald Trump yang Kontroversi
Mulai dari kampanye hingga ia menjabat Donald Trump tidak pernah membuat dunia tenang. Kebijakan-kebijakan dan tindakan Donald Trump selalu menuai kontroversi. Hal itu mulai dari membatasi imigran, membuat tembok di perbatasan Meksiko, mengatakan negara Afrika sebagai "Shithole", ancam-mengancam dengan Korea Utara serta skandal perselingkuhannya dengan bintang porno. Bisa dikatakan bahwa Donald Trump merupakan Presiden Amerika Serikat yang paling kontroversi. Amerika Serikat yang menyandang negara dengan nilai ekonomi terbesar di dunia saat ini sangat disayangkan mendapatkan pemimpin yang seperti ini. Pasar Global diwarnai was-was oleh tindakan Donald Trump dan dengan Presiden yang seperti ini kemungkinan untuk terjadi kejadian fatal sangat tinggi. Sehingga ketidakpastian ekonomi di Amerika Serikat semakin tinggi apalagi ditambah dengan banyaknya bawahan Donald Trump yang mengundurkan diri.

5. Perang Dagang Amerika Serikat vs Cina
Dua negara ini memegang perekonomian terbesar di Dunia yaitu Amerika Serikat sebagai pemimpin pasar dan Cina sebagai runner up di urutan kedua. Apa yang terjadi apabila kedua negara ini melakukan perang dagang? Tentu saja ketidakpastian akan perekonomian global akan semakin tinggi dan pasar sudah merespon negatif akan hal ini dengan penurunan yang besar dalam seminggu terakhir. Dibawah kepemimpinan Donald Trump, Amerika Serikat akan memberikan tarif yang besar untuk impor bahan baku dari Cina dan itu akan menyulitkan Cina dalam mengekspor ke Amerika Serikat. Cina juga menyatakan siap jika nanti akan berperang dagang melawan Amerika Serikat. Meskipun Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan diuntungkan oleh perang dagang ini namun pemerintah Cina mengatakan bahwa tidak akan ada yang menang dalam perang dagang ini. Dalam perekonomian ekspor dan impor merupakan kegiatan yang saling dibutuhkan oleh negara dan pengurangan ekspor ataupun impor akan merugikan baik negara pengekspor maupun pengimpor.

Lalu apa yang harus dilakukan?
Tentu saja semua tindakan memiliki risiko dan tidak ada yang dapat memprediksi secara pasti pergerakan pasar di masa depan. Risiko dan bahaya global terlihat lebih besar di tahun 2018 ini dan itu bisa membuat pasar saham crash di tahun ini. Bagi anda yang merupakan seorang investor sejati maka crash hanyalah sebuah siklus dan apabila terjadi crash maka seorang investor akan tetap tenang dan selalu berada di dalam pasar. Untuk investor yang berhati-hati tahun ini risiko sangatlah besar dan bisa menunggu hingga pasar tenang atau setidaknya setelah setengah tahun berlalu dan mulai masuk ke saham di kuartal ketiga. Namun setiap tindakan memiliki risikonya, apabila tidak terjadi crash dan pasar saham lanjut untuk naik maka investor yang berada di dalam pasarlah yang menikmati dan yang diluar pasar tidak mendapatkan keuntungan. Investor yang ingin melindungi nilai asetnya dapat mengalihkan ke reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap karena risikonya yang lebih kecil dibandingkan saham atau dengan membeli obligasi dan menaruh di deposito. Tindakan seperti itu akan melindungi aset anda namun tetap bertumbuh.

Kesimpulan:
Tahun 2018 ini dibayangi oleh siklus 10 tahunan yang semakin nyata dengan banyaknya koreksi pada saham-saham di dunia. Kebijakan-kebijakan makro ekonomi sangat berpengaruh dan banyak sentimen negatif yang ada di Amerika Serikat dan hal ini dapat meningkatkan ketidakpastian. Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan krisis terjadi sebelum benar-benar terjadi. Mungkin siklus 10 tahunan ini hanyalah sebuah mitos yang dibuat hanya dengan mengkorelasikan waktu dengan kejadian krisis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar