Senin, 02 April 2018

Abaikan Kenaikan Harga Saham TAXI

Sejak bulan Februari hingga Maret 2018 harga saham Express Transindo (TAXI) sudah naik lebih dari 3 kali lipat dibandingkan harga terendahnya di 50. Kenaikan harga saham ini cukup fantastis karena dalam 2 bulan saja investor yang membeli di harga 50 akan mendapatkan keuntungan lebih dari 300%! Namun sejatinya kenaikan harga saham ini tidak disertai oleh fundamental yang meningkat ataupun membaik. Dulu dalam sebuah artikel saya membahas mengenai hancurnya harga saham TAXI yang sudah turun dari harga tertingginya di 1500-an di tahun 2014 hingga menyentuh level 180-an di tahun 2016. Itu artinya saham TAXI sudah turun 90% dalam jangka waktu 2 tahun saja dan malah sempat berada di level terendah untuk saham yaitu 50. Kendati sekarang harga sahamnya meningkat kembali hingga level 150-an namun prospeknya tidak terlihat membaik.

Taxi Express

1. Fundamental Semakin Tidak Bagus
Kendati laporan keuangan untuk tahun 2017 penuh belum keluar karena penundaan namun dengan melihat laporan keuangan sebelumnya yakni Q3 2017 sepertinya tidak berubah banyak. Dalam laporan keuangan Q3 2017 pendapatan TAXI tergerus dari Rp 512,5 miliar menjadi Rp 231,6 miliar atau lebih dari -50%! Rugi bersihnya pun membengkak lebih dari 2,5 kali lipat dari Rp 81,8 miliar menjadi Rp 210,8 miliar. Nilai aset menurun beserta ekuitasnya serta nilai DERnya mencapai lebih dari 3 kali. Dengan posisi seperti ini posisi keuangan saham TAXI sangat berbahaya dan diujung tanduk. TAXI akan sulit untuk membayar liabilitasnya dan merupakan perusahaan yang terancam bangkrut.

2. Rumor Diakuisisi Gojek
Penyebab utama dari meningkatnya harga saham Express Tansindo (TAXI) adalah rumor bahwa Express Transindo akan diakuisisi oleh Gojek dan nilai sahamnya tidak lebih murah dari harga saat IPO. Sekedar informasi saja bahwa harga IPO TAXI berada pada harga 850 dan hal itu sangat jauh dari harga yang sekarang. Namun dengan melihat laporan keuangannya hal itu akan terlihat sangat sulit tercapai. TAXI hingga kini merugi dengan hutang yang sangat besar dibandingkan dengan modal yang ada. Jadi rumor ini terlihat lucu dan tidak masuk akal untuk terealisasi kecuali TAXI mampu merubah keadaannya dan itu terlihat sangat sulit terjadi. Perlu diketahui bookvalue pada laporan keuangan Q3 2017 TAXI sebesar 244 dan sangat jauh untuk diharga 850. Bahkan nilai harga saham yang sekarangpun terlihat mahal karena perusahaan merugi dan kedepannya nilai bookvalue akan tergerus.

3. Pefindo Memangkas Obligasi Menjadi Default
Nasib malang menimpa TAXI karena akhir-akhir ini Pefindo memangkas obligasi dari BB- menjadi D atau default (gagal bayar). Ironisnya pada saat TAXI mengeluarkan obligasi itu di tahun 2014 Pefindo memberikan rating A yang berarti bagus dan jatuh tempo di tahun 2019. Setahun sebelum jatuh tempo dan obligasi tersebut termasuk dalam kategori junk bond. Inilah mengapa berinvestasi pada obligasi juga memiliki risiko didalamnya. Kembali ke topik memang TAXI sudah sulit untuk membayar kupon yang ada pada obligasi tersebut. Laporan keuangan yang asli memang tidak bisa membohongi, TAXI yang tidak bisa membayar kupon obligasi Rp 1 triliun sebesar 12,25% pertahun itu memang wajar karena TAXI kini sedang merugi dan malah kerugian itu membengkak.

Kesimpulan:
Harga saham yang naik karena rumor akuisisi oleh gojek kelihatannya terdengar menarik. Namun jika kita meneliti lebih dalam ternyata rumor tersebut hanyalah rumor dan risiko yang ada di saham TAXI sangatlah lebih besar karena perusahaan sedang diujung tanduk. Hal ini juga merupakan sebuah pelajaran bahwa bagaimana sebuah industri baru menghancurkan industri yang lama dan perusahaan yang tidak bisa beradaptasi akan mengalami kehancuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar