Jumat, 06 April 2018

Kinerja Tiphone Mobile di 2017 Kurang Bagus

Tiphone Mobile Indonesia (TELE) merupakan salah satu emiten yang yang bergerak dalam perdagangan handphone, voucher pulsa dan perdana serta berbagai layanan kebutuhan mengenai handphone. Pada 2 tahun yang lalu di tahun 2016 saya membuat artikel mengenai saham TELE yang terlihat prospektif untuk investasi di harga 600-an. Kini harga saham TELE sudah di level 800-an dan prospeknya tidak sebagus dulu. Perkembangan teknologi membuat kinerja TELE agak tertekan. Berikut ini adalah ulasan mengenai saham TELE:
Gerai TELE
Gerai TELE
1. Kinerja 2017 Kurang Oke
Kendati pendapatan TELE bertumbuh namun pertumbuhannya tidak signifikan. Tercatat di laporan keuangan tahun 2017 TELE membukukan pendapatan sebesar Rp 27,91 triliun dan hanya meningkat 2,21% dari pendapatan Rp 27,31 triliun di tahun 2016. Laba kotornya menurun -2,07% dari Rp 1,58 triliun menjadi Rp 1,54 triliun. Laba bersihnya juga menurun lebih besar yakni -10,81% dari Rp 468,87 miliar menjadi Rp 418,16 miliar. Tercatat margin laba kotor menurun dari 5,78% menjadi 5,54% dan margin laba bersih juga menurun dari 1,71% menjadi 1,49%. Hal ini menandakan bahwa TELE kesulitan dalam membukukan pertumbuhan dan lebih tidak efisien dibandingkan tahun sebelumnya.

2. Kinerja Bisnis Voucher Pulsa Menurun
Bisnis pulsa TELE sebagai penyumbang pendapatan terbesar tercatat mengalami penurunan dari Rp 21,92 triliun menjadi Rp 20,69 triliun atau menurun sebesar -5,58%. Padahal lini bisnis pulsa adalah penyumbang pendapatan terbesar bagi TELE yakni sebesar 74,2%. Terjadi perubahan tren konsumsi penggunaan pulsa di masyarakat. Dulu pulsa sangatlah penting sekarang ini orang-orang cenderung membeli dalam bentuk data dan voucher pulsa tidak lagi begitu diminati oleh pasar. Oleh karena itu TELE harus melakukan transformasi besar-besaran untuk beradaptasi pada perubahan pasar ini. Namun untungnya bisnis penjualan telepon seluler meningkat pesat dari Rp 5,38 triliun menjadi Rp 7,21 triliun yang membuat pendapatan TELE tetap bertumbuh. Namun nampaknya margin penjualan telepon seluler masih kalah dibandingkan dengan penjualan pulsa yang tercermin dari penurunan laba baik kotor maupun bersih.

3. Valuasi Saham TELE
Dengan menggunakan acuan laporan keuangan 2017, saham TELE yang saat ini di harga 800 dihargai dengan PER sebesar 14 dan PBV sebesar 1,6. Sebenarnya harga saham TELE ini cukup standar karena manajemen memproyeksikan pertumbuhan sebesar 11% di tahun 2018 ini. Namun melihat terdapat tekanan pada lini bisnis utama TELE membuat sahamnya kurang prospektif. Lagipula harga saham TELE saat ini memiliki kecenderungan downtrend dan sudah turun sebesar -16% dalam setahun terakhir.

Kesimpulan:
Saham TELE mengalami perubahan fundamental dari yang tadinya prospektif kini menjadi kurang bagus untuk investasi. Investor disarankan untuk menunda untuk membeli saham ini atau bagi yang sudah punya bisa mengurangi porsi pada saham ini dan beralih pada saham yang lebih prospektif.

PS Ini hanyalah sekedar info untuk para investor. Risiko dalam berinvestasi ditanggung sendiri oleh masing-masing investor. Info ini hanya berbentuk opini berdasarkan fakta-fakta yang ada. 
Dislaimer ON!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar