Minggu, 01 April 2018

Review Bulanan Pasar Maret 2018

Pada sepanjang bulan Maret IHSG bergerak turun dengan sangat signifikan. Pada tanggal 1 Maret IHSG dibuka dengan nilai 6605 dan ditutup pada tanggal 29 Maret sebesar 6188 terkoreksi sebesar 6,3%. Untuk nilai tukar rupiah terhadap US Dollar bergerak sideways dari 13.782 pada 1 Maret menjadi 13.748 pada 30 Maret. Harga minyak mentah WTI mengalami kenaikan di bulan Maret dari $61,5/bbl pada 1 Maret menjadi $64,9/bbl pada 29 Maret atau meningkat sebesar 5,5% dalam sebulan. Harga emas dunia bergerak fluktuatif dengan kecenderungan sideways dari $1.319/oz menjadi $1.325/oz sepanjang bulan Maret dengan kecenderungan turun di akhir bulan.
Review

Berikut ini adalah hightlight berita emiten di Bursa Efek Indonesia pada bulan Maret 2018:
1. Waskita Karya (WSKT)
Kementerian Badan Usaha dan Milik Negara (BUMN) berencana merombak jajaran direksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Perombakan tersebut akan dilakukan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di April mendatang. Perombakan ini juga berkaitan dengan kecelakaan kerja yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi para kontraktor dalam mengerjakan proyek-proyeknya.

2. Bumi Serpong Damai (BSDE)
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menetapkan target marketing sales tahun ini sebesar Rp 7,2 triliun. BSDE menyiapkan sejumlah proyek baru, antara lainThe Zora di BSD City serta Apartemen Southgate di TB Simatupang dan Klaska Residence di Surabaya. Marketing sales BSDE tahun lalu meningkat sekitar 16% menjadi Rp 7,23 triliun dari Rp 6,25 triliun pada tahun 2016. Artinya, marketing sales BSDE sama dengan capaian tahun lalu. Tahun lalu, BSDE membukukan kenaikan laba bersih Rp 4,92 triliun atau naik 173% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp 1,79 triliun. Hermawan Wijaya, Direktur BSDE menyatakan kenaikan laba bersih didukung oleh pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 57% menjadi Rp 10,35 triliun secara year on year (yoy). Sedangkan pada tahun 2016, BSDE membukukan pendapatan Rp 6,6 triliun.

3. Garuda Indonesia (GIAA)
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan jumlah kenaikan penumpang 3,5% menjadi 36,24 juta sepanjang tahun lalu. Sayangnya, meski jumlah penumpang bertumbuh, tetapi kinerja segmen domestik turun 1,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Analis BNI Sekuritas Thennesia Debora menduga, hal ini menjadi salah satu penyebab kerugian Garuda. Menurutnya, dalam bisnis maskapai sangat rawan perang tarif. Maskapai yang menawarkan harga lebih murah itulah yang dilirik masyarakat. Inilah yang menekan segmen domestik Garuda.  Sementara itu pada segmen internasional jumlah penumpang Garuda naik 8,1% menjadi 4,8 juta. Segmen internasional masih mampu tumbuh karena banyaknya orang yang berlibur ke luar negeri. Ditambah lagi dari segi tarif, tarif internasional Garuda masih cukup bagus. 'Sering pertanyaan kenapa penumpang naik, tetapi masih rugi. Ini karena pasengger yield-nya turun,' papar Thennesia. Sejak tahun 2012, pasengger yield atau harga rata-rata kursi per kilometer memang terus menunjukkan tren penurunan. Tahun lalu harga rata-rata kursi tercatat melemah menjadi 6,71% dari 6,93% pada 2016.

4. Indosat (ISAT)
Emiten telekomunikasi PT Indosat Tbk. menyebut telah menyelesaikan 60% base transceiver station (BTS) dari total target 119 BTS yang akan dibangun perseroan melalui program Universal Service Oblgation (USO). Sebagaimana diketahui, Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun lalu melaksanakan program dana USO, di mana dana tersebut dipungut dari para operator layanan telekomunikasi dengan porsi 1,25% dari total pendapatannya. Dana tersebut akan digunakan untuk mengakselerasi pembangunan BTS di daerah 3T (tertinggal, terpencil, dan terluar) sehingga perekonomian wilayah tersebut dapat tumbuh lebih baik. Group Head Corporate Communications PT Indosat Tbk. Deva Rachman menyampaikan selama 2017—2018, Indosat telah membangun hingga 60% BTS 2G di daerah-daerah 3T dan ditargetkan dapat diselesaikan pada tahun ini.

5. Gudang Garam (GGRM)
PT Gudang Garam Tbk mengusulkan pembangunan bandar udara (Bandara) Kediri, Jawa Timur. Produsen rokok berkode saham GGRM ini menjadi pemrakarsa tunggal sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). Wakil Direktur PT Gudang Garam Tbk, Susanto Widyatmoko menjelaskan, pihaknya telah meminta izin ke Kementerian Perhubungan untuk membagun Bandara Kediri. Dia bilang, meski baru tahap awal dan belum ada estimasi nilai investasi, perusahaan siap mendanai konstruksi.

6. Adhi Karya (ADHI)
Adhi Karya Tbk (ADHI) berencana melepas beberapa anak usahanya untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setidaknya tiga anak usaha perseroan direncanakan melantai di BEI secara bertahap. Ketiga entitas usaha yang sahamnya akan dilepas ke publik adalah PT Adhi Persada Gedung (APG), Adhi Commuter Property (ACP), dan Adhi Persada Property (APP). ADHI akan melepas APG menggunakan buku Juni, dan akan mencatatkan diri di BEI pada semester II 2018. APG berencana melepas 30% – 40% saham dengan target dana sekitar Rp1 – Rp1,5 triliun. ACP, anak usaha ADHI yang baru saja dibentuk, direncanakan melepas 30% sahamnya ke publik pada tahun 2019. Namun hal ini akan tetap bergantung pada hasil RUPS. ADHI juga akan melepas APP ke publik. Dalam Roadmap ADHI, APP ditargetkan mencatatkan saham di BEI pada tahun 2020. Namun jika tidak ada halangan, maka rencana ini bisa dilakukan pada tahun 2019.

7. Arwana Citramulia (ARNA)
Emiten keramik PT Arwana Citramulia Tbk.meraih sertifikat Green Label Indonesia (GLI) dari Green Product Council Indonesia (GPC Indonesia) karena memproduksi bahan bangunan ramah lingkungan. Chairman GPC Indonesia Hendrata Atmoko mengungkapkan emiten manufaktur dituntut menggunakan bahan baku ramah lingkungan dan efisien air dan energi selama proses produksi berlangsung. Adapun, emiten dengan kode saham ARNA tersebut memiliki total lima plant yang terletak di Tangerang, Gresik, OKI, Serang, dan Mojokerto. Saat ini, total kapasitas pabrik perseroan yaitu sebesar 58 juta meter persegi per tahun.

8. Perusahaan Gas Negara (PGAS)
Setelah Peraturan Pemerintah (PP) disetujui oleh Presiden Joko Widodo, pembentukan Holding BUMN Migas menunggu Keputusan Kementerian Keuangan (KMK). Presiden RI Joko Widodo telah membubuhkan tanda tangan persetujuannya atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 tahun 2018 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham Pertamina. Aturan tersebut merupakan landasan hukum dialihkannya saham negara di PT Perusahaan Gas Negara Tbk., (PGAS) kepada PT Pertamina. Jumlah saham Seri B milik Negara di PGN mencapai 56,96% dari total jumlah saham yang beredar. Pengalihan saham tersebut tidak termasuk Saham Seri A Dwiwarna yang hanya dimiliki oleh Negara RI dengan hak-hak khusus yang tidak dimiliki oleh klasifikasi saham seri B.

9. Matahari Putra Prima (MPPA)
Untuk menekan kerugian dan tingginya beban perusahaan, PT Matahari Putra Prima Tbk. akan melakukan efisiensi sepanjang tahun ini. Head of Corporate Communication PT Matahari Putra Prima Tbk. Fernando Repi menuturkan, efisiensi telah dilakukan sejak 3 tahun lalu, dengan menurunkan 50% biaya pemakaian listrik. Aksi efisiensi tersebut juga masih akan berlanjut hingga tahun ini, mengingat belum terlihatnya pemulihan ekonomi. Fernando mengatakan, akan melakukan efisiensi dari sisi karyawan serta meningkatkan produktivitas pegawai. Selain itu, emiten bersandi saham Hypermart bakal meninjau kembali beberapa gerai-gerai dan mengurangi ukuran gerai.
Saat ini, Hypermart tengah melakukan evaluasi beberapa gerai-gerai yang akan downsize. Selain itu, Hypermart juga tengah mengurangi SKU (stock keeping unit) dan fokus pada penjualan fast moving dan consumer goods. Fernando menuturkan, hampir secara keseluruhan penjualan di kota-kota besar, khususnya ibu kota provinsi dalam tren menurun. Selain itu, penjualan di tingkat kabupaten/kota ada juga yang sudah dua tahun tidak mencatatkan pertumbuhan.

10. Krakatau Steel (KRAS)
Kementerian Badan Usaha Milik Negara optimistis PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. mencatatkan kinerja positif pada tahun ini sejalan dengan pencapaian kinerja tahun lalu.
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Fajar Harry Sampurno mengatakan telah meminta Krakatau Steel untuk menyelesaikan proyek investasi. Salah satunya yakni pabrik blast furnace. Di sisi lain, Direktur Utama Krakatau Steel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menargetkan pertumbuhan penjualan 40% pada 2018. Salah satu langkah yang ditempuh dengan membuat perjanjian pasokan jangka panjang dengan pelanggan potensial serta sinergi BUMN. Mas menyatakan perseroan akan meningkatkan efisiensi biaya operasi. Dengan demikian, kinerja keuangan diharapkan terus membaik pada tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar