Jumat, 04 Mei 2018

Enak Beli Saham Atau Properti? Mari Bandingkan!

Salam untuk semua pengunjung setia stockdansaham.com! Perkenalkan saya Zulbiadi Latief, cita-cita jadi analis saham terbaik untuk saham syariah he he!. Kali ini saya mau sedikit berbagi soal keunggulan antara investasi saham dengan property. Kira-kira enak beli saham atau properti?
Banyak yang bilang kalau investasi saham itu ‘high risk, high return’. Ya, memang betul demikian. Tapi sebenarnya ungkapan tersebut hanya cocok untuk orang yang belum paham sama sekali bagaimana cara membeli saham bagi pemula dan alur dalam bermain saham, istilahnya trader newbie.
Properti
Jika anda masih baru dalam dunia ini kemudian mengalami kerugian dari saham, maka bisa jadi membenarkan quote tersebut. Tapi perlu diketahui bahwa beli saham dengan property sangat jauh berbeda. Jika seorang yang baru beli property, asalkan bisa pilih lokasi yang pas dan harganya sesuai dengan harga pasar, maka umumnya nilai asetnya akan cenderung terus naik dari waktu ke waktu. Berbeda dengan beli saham, sepintar apa pun trader baru tersebut, bahkan sekalipun ia dari jurusan ekonomi maka yang namanya kerugian di awal trading kemungkinan besarnya akan ia alami.
Mengapa bisa seperti itu? Ya, karena yang namanya bergelut di pasar saham seseorang tidak hanya harus mengandalkan ilmunya, tapi juga pengalaman. Dan sudah pasti, orang yang masih baru belum bisa memiliki pengalaman kalau belum menjalani aktifitas trading saham yang cukup. Jadi apa solusinya? Ya, si pemula tersebut harus mulai melakukan transaksi, entah itu ia mengalami cuan atau rugi maka masing-masing pengalaman tersebut akan jadi modal dasar baginya dalam meningkatkan kemampuannya dalam berinvestasi saham.

Jadi, Enak Beli Saham Atau Properti?  
Menjawab pertanyaan di atas mungkin sulit kalau dengan cerita saja. Jadi biar gampang membandingkannya maka saya mau menyebutkan sederet kelebihan dan kekurangan dari masing-masing instrument investasi tersebut.
Bisa dibilang kalau investasi properti itu Minim resiko. Masalanya mungkin hanya kalau terjadi kebakaran atau bencana alam, tapi itu jarang terjadi. Dan bila dilindungi dengan asuransi mungkin resiko seperti ini bisa dihindari. Hanya saja, orang yang mau mengasuransikan rumahnya jumlahnya bisa kita hitung jari. Ini saya ketahui ketika baru lulus kuliah dan mencoba jadi marketing asuransi di perusahaan swasta. Memang betul hampir tidak ada orang yang tertarik dengan asuransi ini, kecuali dari lembaga atau perusahaan yang merasa asetnya perlu dilindungi dengan asuransi.
Selain itu, properti punya karakter mudah naik nilai atau harga jualnya. Tapi itu kembali lagi ke lekasinya. Kalau salah memilih lokasi maka bisa jadi harga jualnya tidak naik, malah semakin tahun semakin turun. Contohnya, banyak orang yang beli tanah di dekat daerah pantai di kota Semarang saat ini merasakan dampak penurunan nilai investasinya, bahkan ada yang rugi besar, karena hampir semua tanahnya terendam air rob akibat efek dari pemanasan global dan pengrusakan lingkungan.
Bicara soal imbal hasil dari investasi properti, saya punya hitung-hitungan sendiri. Jadi begini, saya sendiri pernah beli rumah seharga Rp200 juta, waktu itu saya tanya ke pemiliknya ‘Bapak dulu belinya berapa ya?” Kata pemiliknya “Cuma 20 juta, tapi 10 tahun lalu”. Nah kalau kita hitung-hitung maka keuntungan investasinya adalah 1000%. Tapi coba anda hitung, keuntungan 1000% itu kan karena disesuaikan dengan harganya sekarang. Coba kalau uang tersebut dipakai beli rumah lagi, kan tetap sama harus mengeluarkan dana kurang lebih 200juta juga. Berbeda kalau beli saham, hari ini untung 100 persen, besoknya kita bisa cari lagi saham murah yang jauh dari harga saham yang sudah kita jual. Bukan begitu?
Dan bicara soal sisi negative dari investasi properti, banyak ahli keuangan menyebutkan bahwa property termasuk investasi yang tidak likuid. Maksudnya, kalau mau dijual tidak secepat kalau kita mau menjual instrument investasi lain, seperti emas atau saham. Jadi kita harus pasang iklan dulu, kemudian negosiasi berkali-kali, pokoknya jual rumah tak semudah membelinya. Belum lagi soal urusan ke notaris dan tetek bengek lainnya.
Lalu bagiamana dengan investasi saham?
Pertama kita bahas dulu soal likuiditasnya. Kalau saham, jika Anda mau menjualnya maka bisa saya katakana kalau prosesnya tidak butuh waktu semenit, asalkan sudah pas harganya bisa langsung melakukan offer di harga bid tertingginya. Dan setelah itu, kalau misalnya mau dilakukan penarikan dana ke rekening pribadi maka waktunya tidak sampai seminggu sudah bisa masuk dananya. Jadi, intinya, investasi saham itu mudah transaksinya dan bisa langsung diuangkan kapan saja kita mau.
Dan adapun soal imbal hasilnya, soal ini jangan ditanya karena faktanya banyak sekali. Sebagai contoh yang paling real adalah mari kita melihat profil dan cerita sukses dari Warren Buffett. Beliau konon memulai investasinya dari modal $100 saja, sekalipun ia terbantu dari dana Private Equity dari rekan dan partnernya, tapi prestasinya hingga bisa menjadi orang terkaya nomor 1 di dunia adalah bukti nyata kalau investasi saham itu hasilnya berlipat-lipat dan bahkan berkali lipat dari investasi property. Tapi, yah.. kembali lagi ke kemampuan masing-masing investor dalam mengelola portofolionya.
Wassalam.

Artikel ini ditulis oleh Zulbiadi Latief (Owner Analis.co.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar