Senin, 14 Mei 2018

Saham Dividen yang Bagus Dibeli Pada Mei 2018

Akhir April ditutup dengan penurunan IHSG yang cukup besar yakni hingga -3,2%. Isu trade war, pelemahan rupiah membuat IHSG terperosok dengan sangat dalam sejak awal tahun 2018 yang membuat tahun 2018 merupakan salah satu start terburuk untuk IHSG. Namun karena hal ini pula saham-saham menjadi banyak yang terdiskon dan tidak terkecuali dengan saham-saham bagus yang secara konsisten memberikan dividen. Oleh karena itu penurunan IHSG bukanlah sebuah keburukan namun adalah peluang emas untuk mengoleksi saham-saham bagus di harga yang murah.
Dividen

Di Bursa Efek Indonesia ada banyak saham yang memberikan dividen. Ada yang memberikan dividen dengan persentase yang besar dari harganya dan ada pula yang kecil. Investor sebaiknya menghindari jumlah dividen yang terlampau besar karena dividen itu sulit untuk berulang di tahun-tahun berikutnya sehingga tidak cocok untuk investasi jangka panjang. Dividen yang baik adalah yang jumlahnya normal tapi bertumbuh tiap tahunnya mengikuti laba dari perusahaannya. Pertumbuhan dividen yang terus menerus dalam bertahun-tahun akan membuat investornya balik modal hanya dari dividen tersebut. Langsung saja berikut adalah daftarnya:
1. Pembangunan Perumahan (PTPP)
PTPPKinerja PTPP pada Q1 2018 terbilang bagus karena membukukan kinerja yang konsisten bertumbuh. Pada Q1 2018 pendapatan PTPP meningkat 26% dan laba bersihnya meningkat sebesar 20% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu (year on year). Selain itu PTPP juga berhasil mendapatkan kontrak yang meningkat 44%. Saat ini harga saham PTPP sudah sangat terdiskon dan dihargai dengan PER 9,3 dan PBV 1,2 diharga 2200 yang artinya sudah cukup murah untuk saham yang secara konsisten membukukan pertumbuhan secara konsisten dalam 3 tahun terakhir. Selain itu PTPP memberikan dividen yield sebesar 2,15% di harga tersebut.

2. Waskita Karya (WSKT)
WSKT
Pasar saham memberikan hukuman yang berat kepada saham-saham kontraktor dan yang paling terkena dampaknya adalah saham WSKT. Namun karena pertumbuhan bisnis WSKT yang pesat membuat sahamnya menjadi lebih stabil dibandingkan dengan saham kontraktor yang lain. Namun sebenarnya saham WSKT tidak layak untuk mendapatkan valuasi yang sangat murah seperti saat ini. Itu karena pertumbuhan pendapatan dan laba bersihnya sangatlah pesat karena tiap tahun WSKT selalu membukukan pertumbuhan lebih dari 100%. Pada Q1 2018 juga demikian WSKT membukukan laba bersih yang meningkat sebesar 313% dan pendapatan yang meningkat 68%! Terbukti bahwa WSKT merupakan salah satu emiten yang memiliki pertumbuhan pesat secara konsisten. Namun yang mengkhawatirkan adalah perolehan kontraknya pada Q1 2018 yang menurun sebesar 69% dan hanya setara 5% dari target perolehan kontrak di tahun 2018. Kendati mengkhawatirkan namun proyek yang ada di tangan WSKT masih sebesar Rp 90 triliun yang masih cukup untuk pertumbuhannya di tahun 2018. Saat ini WSKT diperdagangkan dengan PER 7 dan PBV 1,7 yang menandakan saham WSKT termasuk murah karena dulunya WSKT pernah dihargai dengan PER 20-30 seperti halnya saham PTPP di era kejayaan saham konstruksi di tahun 2014-2015. Saham WSKT memberikan dividen yield sebesar 2,85% dan nilai dividennya selalu meningkat dari tahun ke tahun.

3. Adira Dinamika Multifinance (ADMF)
ADMF
Kinerja multifinance terus bertumbuh di tahun 2018 dengan pesat. Salah satu multifinance yaitu ADMF membukukan kinerja Q1 2018 yang bagus. Laba bersihnya meningkat 35% dan ditopang pertumbuhan pendapatan sebesar 13,3%. Dalam 3 tahun terakhir kinerja ADMF selalu bertumbuh diatas 30% dan sepertinya di tahun ini hal itu tidak terlalu berubah. Nilai dividennya juga selalu meningkat dari tahun ke tahun mengikuti pertumbuhan laba bersihnya. Saham ADMF diperdagangkan dengan PER 5,9 dan PBV 1,4 di harga 8300. Karena harganya sangat murah maka nilai dividen yieldnya juga besar yakni sebesar 8,5% di harga tersebut.

4. Adi Sarana Armada (ASSA)
ASSATidak henti-hentinya saya merekomendasikan ASSA karena memang bisnisnya terlihat terus bertumbuh dan valuasinya yang murah membuat saham ini layak untuk investasi jangka panjang. Pada Q1 2018 ASSA membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 86% dengan kenaikan pendapatan sebesar 9,75% secara year on year. Itu artinya profit margin ASSA meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dan saat ini NPM ASSA berada di level 9% yang artinya masih banyak ruang bertumbuh kedepannya. Saham ASSA dihargai murah dengan PER 9,6 dan PBV sebesar 1,0 di harga 290. Selain itu saham ASSA juga memberikan dividen yield sebesar 4,15% di harga yang sama. Perlu diketahui bahwa nilai dividen di tahun 2017 tiga kali lipat dari nilai dividen pada tahun 2015 karena pertumbuhan dividennya mengikuti pertumbuhan laba bersihnya yang pesat.

5. Bank Negara Indonesia (BBNI)
BBNI
Salah satu bank BUMN yang membukukan pertumbuhan pesat dan sehat dibandingkan dengan bank BUMN yang lain. Pada Q1 2018 laba bersih sebesar 13,3% dan pertumbuhan kredit sebesar 10,8% yang diatas rata-rata industri perbankan sebesar 9%. Perlu diketahui bahwa BBNI mencetak pertumbuhan laba bersih yang konsisten dalam 3 tahun terakhir serta nilai dividennya juga bertumbuh. Saat ini saham BBNI dihargai dengan PER 11,1 dan PBV 1,5 diharga 8100 yang terlihat normal dibandingkan dengan pertumbuhannya. Selain itu saham BBNI memberikan dividen yield sebesar 3,15% diharga tersebut.

Kesimpulan:
Penurunan IHSG membuat banyak saham menjadi terdiskon dan dihargai murah hal itu terjadi pada kelima saham tersebut. Investor sejati tidak merasa takut akan penurunan IHSG melainkan semakin senang karena bisa mendapatkan saham di harga yang lebih murah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar