Rabu, 08 Agustus 2018

5 Alasan Kenapa Trading Harian Tidak Menang Dalam Jangka Panjang

Kebanyakan orang yang berinvestasi saham memilih untuk menjadi seorang trader yang melakukan transaksi jual beli dalam jangka pendek. Profit yang terlihat tinggi dalam waktu singkat membuat banyak orang tertarik dengan posisi ini. Bayangkan saja suatu saham bisa naik hingga 30% dalam sehari yang membuat setiap orang pasti tergoda untuk menjadi salah seorang yang beruntung untuk membeli sebelum naik dan menjual setelah naik. Oleh karena itu mereka senang untuk menjadi trader harian dan berusaha mencari saham-saham yang berpotensi untuk naik keesokan harinya dan menjualnya untuk mendapatkan profit yang besar dan beralih pada saham potensial selanjutnya. Terlihat bagus memang tapi tidak seperti itu kenyataannya, sounds good but doesn't work. Itu mungkin pepatah yang tepat untuk menggambarkan kenyataan ini. Kalau ada yang berhasil dengan metode seperti ini jangankan untuk menjadi kaya, orang tersebut akan menjadi salah satu orang terkaya di dunia dan biografinya akan tertulis bahwa dia meraih posisi kekayaannya dengan day trading. Namun lihatlah posisi orang-orang terkaya di dunia yang notabene mayoritas mendapatkannya dari investasi saham, namun apakah filosofi mereka demikian?
Performa

Memang dalam beberapa waktu jangka pendek seorang trader akan menang dan meraih profit yang tinggi. Bahkan profit tersebut yang tinggi membuat trader tersebut sangat senang dan percaya pada strategi tersebut. Setelah mendapatkan profit yang tinggi kekalahan-kekalahan atau kerugian trading dianggap sebagai kesalahan diri dan dinggap biasa saja. Namun jika dikalkulasikan secara jangka panjang kerugian tersebut akan merusak kinerja investasi dalam jangka panjang. Orang terkaya di dunia berorientasi jangka panjang dan terbukti mengalahkan trader yang bermain jangka pendek. Oleh karena itu akan dibahas dalam artikel ini mengapa trading bisa kalah dalam jangka panjang:

1. Persentase yang Tidak Setara Pada Kenaikan dan Penurunan
Jika anda orang yang suka menganalisa maka anda akan menyadari bahwa persentase kenaikan dan peurunan investasi tidaklah setara. Contohnya saja jika anda berinvestasi dengan US$ 100 dan mendapatkan profit sebesar 10% maka nilai investasi anda menjadi US$ 110 dan anda untung US$ 10. Namun jika anda kehilangan -10% dari modal maka nilai investasi anda tinggal US$ 90 atau anda kehilangan US$ 10. Kelihatannya sama namun itu berbeda dan inilah penjelasannya. Masih pada contoh yang sama berapakah besar persentase kenaikan agar trader tersebut dapat mengembalikan modalnya dari US$ 90 ke US$ 100 lagi? Jawabannya bukanlah 10% namun 11,1% yang artinya trader tersebut harus profit 11,1% untuk mengembalikan ke posisi semula dan semakin besar penurunan maka persentase kenaikan yang harus dibayar menjadi lebih besar pula. Katakanlah trader tersebut mengalami penurunan -50%, US$ 100 menjadi US$ 50. Maka trader tersebut harus menggandakan uangnya atau profit 100% baru dapat mengembalikan modalnya kembali. Rumus matematika sederhana inilah yang bisa menghancurkan jalan kesuksesan para trader. Hal itu karena mereka melawan hukum matematika yang ada. Sedangkan investor jangka panjang tidak mempedulikan penurunan dalam jangka pendek dan bersabar menunggu hingga profit lalu menjualnya yang berarti menghindari kerugian yang terjadi. Warren Buffett mengatakan "Rule no 1: Never lose money, Rule no 2: Don't forget rule no 1".

2. Menikmati Keuntungan Jangka Pendek
Kebanyakan trader terlena dengan keuntungan yang diraihnya dan kebanyakan orang melakukan hal yang sama. Apa yang terjadi jika saham anda naik dan anda menjualnya lalu kemudian mendapatkan keuntungan? Apakah anda menginvestasikan dananya kembali atau menghabiskan keuntungannya? Kebanyakan trader memilih opsi yang terakhir sebagai sarana pemuas diri dan refreshing untuk menikmati hasil karena mereka telah bekerja keras dalam menganalisa. Ini adalah hal yang fatal karena seharusnya keuntungan dijadikan modal untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi. Hal psikologis tersebut dapat dihindari oleh investor jangka panjang karena mereka berkomitmen untuk jangka panjang dan tidak menjualnya hingga mencapai potensi maksimal dari sahamnya.

3. Tidak Mendapatkan Keuntungan Dari Efek Compounding
Masuk dan keluar dalam saham terlihat menyenangkan namun pada kenyataannya seseorang yang seperti ini melewatkan sebuah efek yakni compounding. Menjual ketika naik 10% atau 20% tidak akan sebagus ketika menjual saat naik lebih dari 100% yakni ketika berinvestasi jangka panjang. Seringkali ketika suatu saham sudah naik dan membentuk tren maka saham tersebut susah turun dan ketika sudah terlanjur menjual 10% maka seorang trader akan berpikir dua kali ketika harga sudah naik lebih tinggi lagi. Akhirnya mereka akan mengabaikan saham tersebut yang sangat berpotensi untuk naik ratusan persen dan beralih pada saham lain. Mereka melewatkan efek compounding pada saham dimana suatu saham yang naik secara konsisten dari tahun ke tahun akan melipatgandakan modal investor yang berinvestasi di saham tersebut. Efek tersebut hanya akan didapatkan ketika berinvestasi jangka panjang bukan jangka pendek.

4. Tersangkut Pada Saham yang Jelek
Seorang day trader yang tidak mau merugi dengan cut loss akan membawa dirinya untuk tetap memegang saham yang telah dibelinya. Padahal itu diluar dari perencanaannya, dan dia berharap agar harganya naik kembali. Sebenarnya menjadi investor bagus namun permasalahannya kebanyakan trader menganalisa hanya menggunakan analisa teknikal dan mengabaikan fundamental. Saham yang naik puluhan persen masuk dalam kategori saham gorengan yang kebanyakan memiliki fundamental dengan kualitas yang kurang bagus. Akhirnya trader tersangkut pada saham yang tidak berkualitas dan justru dalam jangka panjang merugi karena pasar mencerminkan keadaan perusahaan dalam jangka panjang.

5. Ketika Melihat Saham yang Berpotensi Naik Seorang Trader Tidak Memaksimalkan Modalnya
Saham yang naik dan turun tinggi memang sangat menggoda namun karena risikonya yang tinggi maka trader cenderung mengalokasikan sedikit asetnya untuk membeli saham tersebut. Misalnya saja seorang trader yang mengetahui suatu saham bisa naik 30% besok namun juga ragu bahwa saham tersebut kemungkinan juga bisa turun puluhan persen maka dia hanya mengalokasikan 10% portofolionya untuk saham tersebut. Ketika saham tersebut naik 30% itu tidak akan terlalu berdampak pada portofolio karena sebenarnya hanya menyumbang 3% pada portofolio. Maka dari itu inilah dilema dari seorang day trader tentang alokasi portofolio pada saham yang potensial. Sebalikya investor sangat berani untuk menginvestasikan 90% portofolionya dan hanya memegang 10% cash karena sudah dengan manajemen risiko seperti diversifikasi dan pemilihan saham yang berfundamental baik.

Kesimpulan:
Itulah kelima alasan mengapa trading harian terlihat menjanjikan namun tidak baik untuk jangka panjang sehingga kalah dengan investor yang berorientasi bisnis. Jika anda tetap bersikukuh untuk menjadi day trader risikonya sangatlah tinggi sehingga take it at your own risk, you will either make it or break it but most people would go broke

Tidak ada komentar:

Posting Komentar