Selasa, 14 Agustus 2018

Analisa Hancurnya Saham Properti Lippo Cikarang (LPCK)

Bila anda mendengar Grup Lippo maka hal itu tentu sudah tidak asing lagi karena Grup Lippo merupakan salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia. Grup Lippo ini sudah berdiri lama yakni pada tahun 1950 oleh Mochtar Riady. Bisnisnya berkembang pesat namun bisnisnya yang paling besar ada di sektor properti. Dulu saham properti Lippo mencatatkan kinerja yang sangat fenomenal. Sahamnya naik puluhan kali hanya dalam waktu beberapa tahun contohnya saja Lippo Cikarang (LPCK) dari tahun 2009-2014. Tentunya kenaikan tersebut di back up dengan fundamental yang bagus. Pada saat itu kinerjanya sangat bagus sehingga menyebabkan harga sahamnya naik drastis. Bahkan dalam sebuah artikel saya membahas mengenai bagaimana investor LPCK mendapatkan keuntungan yang besar. Namun sejak tahun 2015 hingga sekarang saham LPCK mengalami downtrend dan itu bukan tanpa sebab. Sejak berada di puncak tertingginya 12000 di tahun 2015, LPCK sudah turun sebesar -83% ke level 2000. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai hal yang menyebabkan saham LPCK jatuh dalam analisa fundamental dan hal berharga apa yang dapat dipetik oleh investor dari kejadian ini.

Meikarta


Proyek Meikarta yang Kontroversial
Bila anda tinggal di Jabodetabek anda pasti pernah untuk melihat iklan tentang proyek Meikarta. Bahkan jika anda suka menjelajahi sosial media dan internet maka proyek Meikarta pasti pernah anda dengar. Nah proyek ini adalah proyek yang dicanangkan oleh Grup Lippo dan merupakan proyek terbesar yang pernah dikerjakan oleh Grup Lippo. Hal itu karena diperkirakan proyek ini akan menelan dana hingga Rp 278 triliun. Sedangkan anda tahu sendiri bahwa hingga tahun 2018 ini asset yang dimiliki oleh LPCK hanya sebesar Rp 13 triliun dan ekuitas hanya senilai Rp 7,8 triliun atau mungkin bisa dibantu dengan perusahaan properti Lippo yang lain seperti Lippo Karawaci (LPKR), namun tetap saja asset LPKR hanya Rp 57,6 triliun dan ekuitas Rp 29,9 triliun. Sepertinya manajemen properti Lippo terlalu agresif dan bernafsu besar untuk menjalankan proyek besar ini. Di tambah lagi banyak masalah yang muncul seperti izin AMDAL serta marketing sales yang tidak sesuai perkiraan alias kecil membuat kelangsungan proyek ini menjadi dipertanyakan. Investor yang cermat sudah keluar dari saham Grup Lippo setelah isu-isu tak sedap keluar atau investor yang genius akan keluar setelah Lippo mengumumkan proyek Meikarta karena itu terlalu ambisius.

Kinerja Laporan Keuangan Menurun
Alasan besar dibalik penurunan harga saham LPCK adalah kinerjanya yang menurun. Di tahun 2015 laba bersih LPCK masih tumbuh sebesar 7,6% dan pendapatannya masih meningkat sebesar 17,7%. Namun di tahun 2016 laba bersihnya anjlok -41% dan pendapatannya juga turun -27%. Lalu hal tersebut berlanjut di tahun 2017 laba bersihnya anjlok lagi -32% dan pendapatannya turun -1,82%. Sepertinya tren penurunan itu berlanjut ke 2018 karena pendapatannya menurun sebesar -30% dan laba bersih turun -56%. Itulah mengapa sejak tahun 2015 saham LPCK mengalami penurunan yang besar. Hal itu karena kinerja perusahaan yang menurun dan investor yang cerdas pasti sudah menjual sahamnya di tahun 2015.

Kesimpulan:
Kinerja masa lampau yang cerah oleh LPCK tidak membuat sahamnya layak investasi. Kinerja kedepannya dari LPCK kurang bagus sehingga harga sahamnya pun terus melorot. Pelajaran berharga yang dapat diambil investor adalah agar tetap tidak lengah dan lakukan terus analisa laporan keuangan secara periode. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar