Jumat, 03 Agustus 2018

Review Bulanan Juli 2018

Pada sepanjang bulan Juli IHSG bergerak turun dengan sangat signifikan. Pada tanggal 2 Juli IHSG dibuka dengan nilai 5828 dan ditutup pada tanggal 31 Juli sebesar 5936 naik sebesar -1,8%. Untuk nilai tukar rupiah terhadap US Dollar bergerak melemah dari 14.324 pada 1 Juli menjadi 14.420 pada 31 Juli. Harga minyak mentah WTI mengalami kenaikan di bulan April dari $73,94/bbl pada 2 Juli menjadi $68,76/bbl pada 31 Juli atau turun sebesar -7% dalam sebulan. Harga emas dunia bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menurun dari $1.239/oz menjadi $1.223/oz sepanjang bulan Juli dengan kecenderungan downtrend.
Review

Berikut ini adalah hightlight berita emiten di Bursa Efek Indonesia pada bulan Juli 2018 terutama berita mengerikan mengenai Tiga Pilar Sejahtera (AISA):
1. Indorama Synthtics (INDR)
Emiten produsen polyster dan tekstil PT Indo-Rama Synthetics Tbk. (INDR) menaikkan kapasitas produksi sebesar 20% atau 55.000 ton per tahun sampai 2020. Direktur Utama Indo-Rama Synthetics Visnu Swaroop Baldwa menyampaikan, utilisasi pabrik perusahaan mencapai 100%, sehingga perlu menambah kapasitas produksi polyster. Pada 2020, diharapkan kapasitas produksi meningkat sekitar 20% atau 55.000 ton menuju 275.000 ton per tahun. 'Pengembangannya ada dua fase. Fase pertama diperkirakan selesai akhir tahun ini dengan penambahan kapasitas sekitar 15% dari 55.000 ton [8.250 ton]. Seluruhnya selesai 2020,' ujarnya, Jumat (29/6/2018). Menurut Baldwa, penambahan kapasitas produksi polyster sebesar 55.000 ton selama dua tahun membutuhkan biaya US$60 juta. Sumber pendanaan berasal dari kas internal.

2. Barito Pacific (BRPT)
Kinerja keuangan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sepanjang kuartal pertama tahun ini tidak begitu moncer. Meski mencatat kenaikan pendapatan, BRPT mengalami penurunan laba bersih yang signifikan. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (2/7), BRPT memperoleh pendapatan bersih sebesar US$ 697,54 juta. Pendapatan bersih naik 9,76% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yaitu sebesar US$ 635,54 juta. Pendapatan BRPT naik disokong oleh bertambagnya pendapatan di sektor petrokimia sebesar 21,8%, sewa tanki dan dermaga naik 10,2%, serta pendapatan dari sewa propeti dan hotel yang melonjak 87%. Namun, pendapatan BRPT dari industri pengolahan kayu turun 51,1%, serta pendapatan dari ekspor petrokimia juga turun 14,5%. Sayang, kenaikan pendapatan tersebut juga diiringi dengan naiknya beban pokok pendapatan dan beban langsung, sebesar 21,3% yoy menjadi US$ 559,06 juta. Selain itu, beban keuangan BRPT juga naik berlipat ganda. Sepanjang kuartal-I 2018, beban keuangan BRPT tercatat senilai US$ 20,49 juta atau naik 93% dari tahun sebelumnya. Beban bunga dari utang bank dan obligasi berkontribusi paling besar pada kenaikan beban keuangan perusahaan ini. Beban bunga dari utang bank BRPT naik 55,2% yoy menjadi US$ 11,5 juta. Sementara, beban bunga dari obligasi BRPT meroket sebesar 470,1% yoy menjadi US$ 6,17 juta dari sebelumnya US$ 1,08 juta. Ditambah lagi, BRPT juga menderita kerugian kurs mata uang asing bersih yang cukup dalam yaitu sebesar US$ 3,93 juta. Padahal, periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan masih mendapat keuntungan dari mata uang asing bersih sebesar US$ 1,26 juta. Dengan demikian, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk BRPT pun merosost 60,93% menjadi hanya US$ 19,13 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, laba BRPT sebesar US$ 48,96 juta. Adapun, hingga akhir Maret 2018, liabilitas BRPT tercatat sebesar US$ 1,52 miliar, sedangkan jumlah ekuitas sebesar US$ 2,07 miliar. Jumalh aset BRPT per akhir kuartal pertama sebesar US$ 3,59 miliar.

3. Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC)
PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) memperoleh kenaikan laba tahun berjalan di semester I-2018 sebesar 56%. Adapun kenaikan itu dari Rp 59,9 miliar di semester I-2017 menjadi Rp 94,8 miliar. Direktur Utama IPCC Chiefy Adi Kusmargono mengatakan targetnya perolehan laba perusahaan di 2018 diharapkan mencapai dua kali lipat. Adapun laba perusahaan di tahun lalu yakni Rp 130,1 miliar.

4. Pollux Properti (POLL)
PT Pollux Properties Indonesia Tbk (POLL) memiliki target ambisius di tahun 2018 ini. Perusahaan yang baru saja menginjakkan kaki di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (11/7) ini, berharap bisa mencatatkan kenaikan pendapatan empat kali lipat hingga akhir tahun ini, menjadi sebesar Rp 1,6 triliun. Tak cuma pendapatan saja, perusahaan tersebut juga berencana mencatatkan kenaikan laba hingga sebesar Rp 400 miliar. Target tersebut naik drastis ketimbang realisasi laba bersih perusahaan properti ini di sepanjang 2017 lalu, yang hanya Rp 100 miliar. Artinya, Pollux pun menargetkan laba melonjak empat kali lipat atau tumbuh sekitar 300%.

5. Kino Indonesia (KINO)
Produsen produk kesehatan dan perawatan personal, PT Kino Indonesia Tbk menargetkan kenaikan laba sebesar 35% di tahun ini. Demi mencapai target, emiten berkode KINO ini menyiapkan beberapa strategi. Chief Financial Officer KINO Budi Muljono mengatakan, pihaknya akan mengubah sistem distribusi dengan multi distributor. 'KINO menangani sendiri distributor pihak ketiga sehingga jalur komunikasi menjadi lebih eifisien,' ujar Budi. Sebelumnya, KINO memiliki anak usaha PT Duta Lestari Sentratama (DLS) yang khusus menangani distribusi produk-produk KINO. Dengan strategi baru ini, DLS bertugas memperluas jaringan dan penjualan lewat cabang-cabang yang sudah dimiliki. 'Sehingga, berkembang secara intensif dan ekstensif,' kata Budi. Selain mengubah strategi distribusi, KINO juga berencana membagi segmen personal care menjadi dua bagian. Budi menilai, dengan strategi tersebut masing-masing merek dalam segmen tersebut dapat berkembang lebih besar. Dengan rencana penjualan yang terus tumbuh, KINO berencana menambah kapasitas produksi. Meski begitu, Budi enggan merinci rencana penambahan kapasitas produksi di tahun ini. Yang pasti, saat ini kapasitas produksi KINO sebesar 293.000 kilo liter per tahun.

6. Tiga Pilar Sejahtera (AISA)
PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) memastikan tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran kupon obligasi dan sukuk ijarah I tahun 2013, yang jatuh tempo pada esok hari, Kamis (19/7). Menurut perseroan, kondisi kas dan setara kas tidak memadai untuk memenuhi kewajiban tersebut. Meski memastikan kondisi kas dan setara kas tidak memadai pembayaran kupon surat utang, dalam keterangan resminya Joko belum menginformasikan detil dana internal yang dimiliki. Bahkan, di lain pihak, sampai 18 Juli lalu manajemen TPS Food juga belum menyampaikan laporan keuangan kuartal I-2018.

7. Mitra Adiperkasa (MAPI)
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) melalui anak usahanya PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) terus mengembangkan gerai kopi miliknya Starbucks. Ekspansi ini guna mendukung upaya pertumbuhan di segmen food & beverages (F&B) MAPI. Fetty Kwartati, Head of Corporate Communications MAPI sekaligus Direktur MAPB menyampaikan, tahun ini kinerja perusahaan ditargetkan tumbuh pada level 15%. Salah satu katalis pertumbuhan adalah segmen F&B yang salah satunya kontributor utamanya adalah Starbucks. “Semester I tahun 2018, Starbucks sudah buka 29 gerai (baru), lokasinya mix antara mal, office building, residence area, airport, train station dan rest area,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (23/7). Jumlah tersebut hampir setengah dari target tahun ini yang dipasang dilevek 60 gerai baru, dengan pertumbuhan gerai yang semakin besar harapannya kontribusi segmen F&B juga akan meningkat. Catatan Kontan.co.id, Starbucks menargetkan pertumbuhan penjualan meningkat di level 20% tahun ini. “Realisasi 29 gerai dari (target) 60 gerai tahun ini,” lanjutnya. Ekspansi gerai Starbucks masuk dalam rencana MAPI menambah gerai dengan luasan total mencapai 60.000 meter persegi (m²). Untuk itu, perusahaan mengalokasikan dana belanja modal tahun ini sebesar Rp 800 miliar.

8. Acset Indonusa (ACST)
PT Acset Indonusa Tbk. mengincar pekerjaan infrastruktur yang masuk ke dalam kategori proyek strategis nasional sejalan dengan strategi perseroan yang selektif dalam memilih kontrak.
Sekretaris Perusahaan Acset Indonusa Maria Cesilia Hapsari menjelaskan bahwa emiten berkode saham ACST itu membidik proyek dengan nilai yang cukup besar dan kompetensi rumit. Dari situ, perseroan bisa mendapatkan margin yang diincar. Dia mencontohkan untuk pekerjaan fondasi dengan tingkat ke dalaman di atas 90 meter. Untuk proyek gedung, ACST membidik proyek dengan tingkat kesulitan tinggi dan nilai besar yang juga memberikan nilai tambah bagi konsumen. “Untuk proyek infrastruktur, tender pemerintah yang kami incar adalah yang termasuk dalam proyek strategis nasional [PSN] karena proyek tersebut lebih diutamakan untuk dilaksanakan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (24/7/2018). Dalam pengerjaan proyek infrastruktur, sambungnya, ACST akan menggandeng kontraktor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah tersebut ditempuh untuk melengkapi kompetensi yang dimiliki. Sebagai catatan, Acset Indonusa dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. tengah berkolaborasi membidik tender proyek jalan tol dengan perkiraan nilai kontrak mencapai Rp4,7 Triliun. Beberapa tender yang tengah dikuti antara lain pekerjaan jalan tol Jakarta—Cikampek (Japek) dan tol Serpong—Balaraja.

9. Kobexindo Tractors (KOBX)
Emiten alat berat, PT Kobexindo Tractors Tbk. berhasil membukukan laba bersih senilai US$1,53 juta pada paruh pertama tahun ini, atau melonjak 90,24% year on year. Direktur Utama Kobexindo Tractors Humas Soputro mengungkapkan, lonjakan itu tak lepas dari tingginya permintaan dari alat berat, khususnya dari sektor pertambangan. Pada semester I/2018, Kobexindo berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 45,83% menjadi U$41,78 juta dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$28,65 juta.

10. Tiga Pilar Sejahtera (AISA)
Rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. kian memanas, karena lebih dari 50% tidak menerima laporan keuangan 2017. Dalam agenda yang dilaporkan ke BEI, RUPS ini dimulai pada 14.00 WIB. Namun, antrian investor sangat panjang, sehingga dibutuhkan waktu sekitar satu jam 30 menit untuk proses registrasi. RUPS Tahunan emiten bersandi saham AISA pun dimulai sekitar pukul 15.30 WIB. Ratusan investor institusi dan ritel memenuhi auditorium Tiga Pilar. Bangku penuh. Beberapa investor pun memilih duduk di tangga, demi memperjuangkan hak suara. Dinginnya ruang auditorium, seketika berubah pengab, dipenuhi dengan teriakan-teriakan. Sesekali ada cacian, “Tak becus!” Investor ritel Tiga Pilar Sejahtera Food Hariyanto Bhakti mengatakan, investor yang hadir tidak percaya dalam pengelolaan keuangan. Dia mengatakan, sudah ada 60% investor yang tidak menyetujui laporan keuangan 2017 AISA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar