Minggu, 05 Agustus 2018

Stop Membeli Saham-Saham Jelek

Akhir-akhir ini terdengar banyak kisah pahit berbagai macam investor retail yang memiliki saham dan tidak dapat menjualnya karena tersangkut masalah. Selain itu sahamnya mengalami penurunan karena terdapat masalah yang ada pada perusahaan dibaliknya. Apakah anda ingin bernasib seperti itu karena membeli saham-saham yang buruk pengelolaannya dan kinerjanya? Secara logika memang seorang investor seharusnya menghindari saham-saham yang seperti ini namun apa daya seringkali logika dikalahkan oleh faktor psikologis yaitu salah satunya saham ini sudah jatuh banyak dan terlihat sangat murah. Padahal kenyataannya yang ada saham tersebut bukanlah murah melainkan murahan
Sampah

Saham jelek memang terlihat menggoda karena valuasinya yang terlihat murah dan harganya yang sudah turun dengan sangat banyak sekali. Investor berpikir bahwa membeli saham yang demikian merupakan sebuah investasi yakni value investing. Mereka berpikir bahwa harganya yang mulai stabil dan valuasinya yang murah membuat sahamnya aman dan tidak mungkin untuk jatuh lebih dalam lagi serta berpotensi untuk kembali diharganya yang tinggi di masa lalu. Namun kenyataannya membeli saham di perusahaan yang jelek terutama yang memiliki manajemen jelek tidaklah produktif kerugian yang besarlah yang akan dialami. Sejatinya saham mengikuti kinerja perusahaan dibaliknya. Apabila perusahaan tersebut membukukan kerugian dan memiliki nilai hutang yang tinggi maka perusahaan tersebut bisa berpotensi bangkrut dan hanya sedikit yang tersisa untuk para pemegang saham atau bahkan tidak sama sekali.
Data Usang Masa Lalu
Ya ya banyak investor yang menyayangkan kinerja emiten saat ini dengan berpatokan pada data masa lalu yang cemerlang. Mereka mengharapkan akan adanya perubahan dalam manajemen yang membuat keadaan perusahaan berubah menjadi lebih baik. Dear investor, that's wishing not investing. Memang jika kita melihat data masa lalu maka perusahaan tersebut terlihat bagus dan layak investasi. Namun kita harus melihat ke masa depan karena percuma masa lalu bagus jika masa depan suram. Kinerja saham akan bergerak pada data-data yang ada di masa depan dan mungkin sedikit berpatokan pada data masa lalu. Mungkin saat ini perusahaan membukukan keuntungan yang besar namun jika kedepannya perusahaan membukukan kerugian maka harga sahamnya bisa jatuh.

Emosi Mengalahkan Logika
Banyak yang sudah terlanjur membeli namun tidak mau menjual dengan kerugian karena sayang dengan sahamnya. Mereka berdoa agar saham tersebut kembali lagi pada masa kejayaannya, sekali lagi that's wishing, not investing. Investing itu adalah membeli saham yang berprospek bagus di masa depan dan dana yang terparkir pada perusahaan jelek sangat tidak produktif. Kerugian anda bisa terus bertambah seiring berita-berita buruk yang datang, alih-alih kembali untung yang ada malah buntung. Oleh karena itu sebagai investor anda tidak hanya berani membeli namun juga harus berani menjual meskipun dalam keadaan rugi dan move on

Kesimpulan:
Banyak investor yang salah menilai saham yang memiliki nilai dengan saham yang memiliki jebakan. Investor sebaiknya melakukan cut loss jika terlihat sesuatu yang buruk dalam suatu saham sebelum terlambat. Dengan melakukan cut loss dan beralih pada saham yang memiliki prospek cerah akan membuat modal anda naik kembali dan akhirnya membayar kerugian anda. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar