Jumat, 25 Januari 2019

Investasi Saham Versus Investasi Properti

Mungkin ada banyak orang yang ragu berinvestasi saham karena imbal hasilnya yang tidak pasti dan faktor risikonya yang tinggi. Berinvestasi properti lebih menarik di mata orang pada umumnya karena banyak yang berhasil dalam meraih keuntungan berinvestasi properti dan wujudnya yang nyata. Sedangkan di saham masih belum banyak yang sukses berinvestasi kendati terdapat salah satu tokoh investasi saham yang berhasil yaitu Lo Kheng Hong dan nilai wujud saham yang terlihat tidak nyata. Oleh karena itu jika disuruh memilih pasti banyak orang yang lebih memilih untuk berinvestasi di properti dibandingkan di saham, bagaimana tidak properti yang anda miliki bisa anda tinggali atau sewakan untuk mendapatkan pemasukan. Dalam artikel ini dibahas kelebihan dan kekurangan pada masing-masing instrumen investasi ini:
Saham vs Properti
Kelebihan Properti:
- Wujudnya Nyata dan Dapat Ditinggali atau Ditempati
Tentunya memiliki sebuah rumah adalah kebutuhan primer setiap orang. Bila belum memiliki rumah sebaiknya memang berpikir untuk mendapatkan rumah sendiri karena rumah adalah salah satu investasi yang paling menguntungkan untuk setiap orang. Kita bisa menempatinya kapanpun kita mau asalkan membayar tagihan dan pajak yang ada.

- Harganya yang Cenderung Meningkat Konsisten Setiap Tahun dan Stabil
Banyak orang mengatakan bahwa beinvestasi di properti adalah investasi yang pasti menghasilkan keutungan. Hal itu memanglah benar setidaknya untuk di Negara kita Indonesia karena kebutuhan akan properti masih sangat tinggi karena jumlah penduduk yang terus meningkat.

- Merupakan Aset yang Terlihat Nyata dan Menaikkan Status
Properti merupakan aset nyata yang terlihat jelas, dapat disentuh dan digunakan hal ini akan membuat investor menjadi tenang dan dapat berpikir jangka panjang. Selain itu fisiknya yang nyata dapat terlihat oleh orang lain sehingga dapat menaikkan status investor yang memilikinya.

- Mendapatkan Pendapatan Sewa yang Rutin
Properti yang disewakan membuat pendapatan yang rutin pada pemilik popertinya. Memiliki kos-kosan dapat membuat pendapatan sewa yang rutin setiap bulan dan mengontrakkan rumah membuat pendapatan pertahun. Hal inilah yang disukai oleh kebanyakan investor properti karena menciptakan pendapatan tambahan.

Kekurangan Properti:
- Modal yang Besar Dalam Memulai
Butuh modal yang besar yakni ratusan juta hingga miliyaran untuk memulai investasi properti. Hal itu terutama jika anda membeli properti di kota-kota besar yang notabene memiliki harga yang sangat mahal.

- Asetnya Tidak Bergerak Bahaya Jika Ada Bencana
Memiliki properti tidak selalu aman, sifatnya yang menetap dan tidak bergerak membuatnya rawan jika terkena bencana alam. Gempa bumi dan Tsunami bisa menghancurkan properti dan membuat rugi para pemiliknya. Jika aset anda hanya berada pada properti maka anda harus berpikir untuk membuat aset yang lain.

- Terdapat Biaya Maintenance Seperti Tagihan, Pembenahan dan Pajak
Properti membutuhkan biaya perawatan dan pengeluaran perbulan seperti tagihan dan pengeluaran tahunan seperti pajak harus anda perhitungkan. Selain itu pada selang beberapa waktu properti anda dapat mengalami kerusakan dan anda harus melakukan perbaikan yang dapat memakan biaya tidak sedikit. Hal ini akan menjadi beban jika investor tidak dapat menyewakan propertinya.

- Adanya Potensi Kehilangan atau Tidak Adanya Penyewa
Menyewakan properti tidak semudah yang anda bayangkan, seringkali investor properti mendapati propertinya kosong tanpa penyewa. Kalaupun ada penyewa tidak selamanya penyewa tersebut akan tinggal di satu properti. Dengan kehilangan penyewa itu berarti investor akan kehilangan pendapatan sedangkan biaya maintenance harus tetap dilakukan.

- Jika Terjadi Krisis Maka Harga Juga Akan Turun
Tidak selamaya properti harganya naik, di saat krisis harga properti juga bisa turun atau malah jatuh. Contohnya adalah krisis moneter di tahun 1998 yang membuat properti turun karena kerusuhan dan krisis 2008 yang membuat harga properti turun di Amerika Serikat. Tidak ada yang pasti dalam investasi, ekonomi yang lesu juga dapat membuat harga properti stagnan dan lesu. Harga properti selalu naik hanyalah mitos.

- Banyaknya Birokrasi yang Harus Dilakukan Ketika Membeli Ataupun Menjual Rumah
Jual beli properti tidaklah semudah jual beli barang, ada prosedur yang harus dilakukan. Proses jual beli properti paling cepat dilakukan dalam hitungan hari dan itu bisa memakan waktu yang lama hingga mingguan untuk mengurus surat menyurat dengan notaris. Hal ini cukup ribet untuk orang yang tidak biasa melakukan jual beli properti.

- Merupakan Aset yang Kurang Likuid Seringkali Membutuhkan Waktu yang Lama Dalam Menjual
Properti merupakan instrumen investasi yang paling sulit untuk diuangkan dan berkategori kurang likuid. Investor yang ingin menjual properti mendapati dirinya membutuhkan waktu yang lama dari mingguan, bulanan hingga tahunan untuk mendapatkan pembeli yang tepat bagi propertinya.

Kelebihan Saham:
- Modal Awal yang Relatif Kecil
Investasi saham saat ini sangatlah mudah dan murah. Pemerintah semakin mempermudah masyarakat untuk menjadi investor saham dengan membuat kampanye Yuk Nabung Saham yang membuat banyak sekuritas menawarkan deposit pertama kali dalam jumlah yang kecil. Bahkan investasi saham bisa dimulai dengan uang Rp 100 ribu saja. Modal yang besar dalam investasi saham adalah mitos, masyarakat dapat memulainya dengan jumlah yang kecil saja.

- Terdapat Potensi Capital Gain (Kenaikan Harga) Baik Dalam Jangka Pendek Maupun Jangka Panjang
Transaksi saham dilakukan setiap hari sehingga membuat saham dapat naik turun dengan jumlah yang besar dalam jangka waktu yang relatif singkat. Jika harga di pasar lebih tinggi dibandingkan harga yang dibeli oleh investor maka investor tersebut mendapatkan keuntungan berupa capital gain. Kendati dapat turun dalam jangka pendek, investasi saham terbukti sangat menguntungkan dalam jangka panjang karena harga saham akan mengikuti perkembangan bisnis perusahaan.

- Transaksi yang Cepat dan Mudah Dilakukan (Likuid)
Transaksi jual beli saham dilakukan dalam waktu yang cepat yaitu detik selama ada yang menawar dan menjual sahamnya di pasar. Hal itu karena transaksi saham tidak seperti dulu yang harus menelpon broker, saat ini transaksi jual beli saham bisa dilakukan secara online selain itu pencairan dana dapat dilakukan kurang dari satu minggu sehingga saham merupakan salah satu instrumen investasi yang sangat likuid (lancar).

- Terdapat Pembagian Hasil Bisnis Dalam Bentuk Dividen Setiap Tahun Tanpa Investor Harus Melakukan Sesuatu
Membeli saham itu berarti anda berhak atas bagian laba bersih yang dihasilkan perusahaan. Banyak perusahaan terbuka yang membagikan sebagian laba bersihnya dalam bentuk dividen dan investor yang memegang sahamnya hingga tanggal pembagian berhak untuk mendapatkan dividen tersebut. Investor hanya membeli dan duduk manis sambil menikmati dividen yang dibagikan setiap tahunnya. Hal itu berbeda dengan properti yang membutuhkan manajemen dalam pengelolaannya.

- Nilai Dividen yang Berpotensi Meningkat Dalam Jangka Panjang
Dividen tidaklah selalu konstan, perusahaan yang memiliki bisnis yang berkembang dapat menaikkan jumlah dividen seiring berjalannya waktu. Jumlah dividen yang kecil di masa sekarang bisa menjadi besar di masa depan jika perusahaan meningkatkan dividennya setiap tahun. Bahkan ada perusahaan yang meningkatkan dividennya puluhan persen karena bisnisnya yang berkembang pesat. Nilai dividen bisa berlipat ganda seiring berjalannya waktu.

- Hasil yang Sangat Besar Dalam Jangka Panjang
Nilai capital gain dan dividen pada perusahaan yang bagus jika ditotal akan sangat besar dalam jangka panjang. Bahkan saham bisa naik berkali-kali lipat dan ratusan kali lipat dalam jangka panjang. Dengan modal yang kecil 

Kekurangan Saham:
- Fluktuasi Harga yang Besar yang Menyebabkan Terganggunya Emosi
Harga saham bisa naik turun dalam waktu yang pendek. Bahkan harga saham bisa turun hingga puluhan persen dalam waktu yang singkat. Hal itu membuat banyak yang emosional dan kesulitan dalam berinvestasi saham. Fluktuasi harga dalam saham adalah hal yang biasa dan investor harus dapat mengendalikan emosinya. Risiko ini dapat diminimalisasi dengan diversifikasi.

- Adanya Potensi Kerugian yang Besar dan Modal yang Hilang Jika Perusahaan Bangkrut dan Delisting Paksa
Jika perusahaan bangkrut atau delisting paksa dari bursa maka itu adalah akhir yang tragis bagi investor sahamnya karena nilainya hampir tidak tersisa. Ada beberapa perusahaan yang bangkrut dan delisting secara paksa dan itu merupakan kerugian investor yang menanamkan modal di dalamnya. Namun itu hanya berlaku pada perusahaan yang memiliki keuangan buruk dan merugi. Untuk perusahaan yang bagus, kuat dan sehat risiko kebangkrutan mendekati kata nihil. Harga sahamnya bisa turun banyak namun perusahaannya tetap kuat. Perusahaan yang terancam bangkrut haruslah dihindari oleh investor.

- Berkurangnya Jumlah Dividen Dibandingkan Masa Lalu
Bisnis tidak selalu berjalan mulus, nilai laba bersih bisa mempengaruhi nilai dividen yang diberikan. Jika laba bersih turun maka kemungkinan manajemen perusahaan dapat menurunkan nilai dividen untuk menjaga keuangan perusahaan.

- Wujudnya yang Terlihat Tidak Nyata
Wujud saham hanyalah dalam bentuk sertifikat bukti kepemilikan. Bahkan di era online trading saat ini wujud saham semakin tidak terlihat nyata dan seperti sebuah permainan game. Namun sejatinya saham merupakan bukti kepemilikan perusahaan dan investor yang berpikir demikian lebih baik dibandingkan investor yang tidak berpikir seperti itu yang hanya menganggap bahwa saham hanyalah permainan semata.

- Harga yang Turun Jika Ada Gejolak Perekonomian ataupun Krisis
Jika ada gejolak dalam perekonomian maka yang paling terasa dampaknya adalah bursa saham karena bursa saham berkaitan erat dengan dunia ekonomi dan bisnis. Pada saat krisis bursa saham bisa terjadi crash yang dapat menyebabkan harga indeks pasar turun puluhan persen. Hal itu terjadi ketika krisis moneter di tahun 1998 dan krisis global di tahun 2008. Namun selama anda memegang sahamnya dan tidak menjual sahamnya maka itu tidaklah menjadi masalah dan terbukti ketika ekonomi kembali mengalami perbaikan dan bertumbuh maka indeks saham akan naik kembali dan mencetak rekor tinggi yang baru seiring berjalannya waktu.

Kesimpulan:
Saham dan properti merupakan instrumen yang menjanjikan dalam jangka panjang. Kelebihan dan kekurangan berinvestasi pada instrumen bisa menjadi acuan pada investor yang memiliki profil investasi yang berbeda-beda.

Saya membuka jasa konsultasi investasi saham yang murah dan memiliki track record yang baik. Baca selengkapnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar