Kamis, 24 Januari 2019

Perbedaan Hutang yang Baik dan Hutang yang Buruk

Di era yang modern ini semua pembelian yang mahal dapat diselesaikan secara hutang. Jenis hutang menurut produktivitasnya dibagi menjadi dua yaitu hutang yang produktif (baik) dan hutang yang tidak produktif (buruk). Meskipun terdapat dua jenis hutang namun kebanyakan orang memiliki dan memilih hutang yang berkategori hutang yang tidak produktif (buruk). Memiliki hutang yang buruk dapat membebani finansial anda dan sebaiknya anda mengurangi atau malah menghindari hutang yang masuk dalam kategori buruk. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai perbedaan kedua jenis hutang ini.
Dilema hutang

1. Hutang yang Produktif (Baik)
Kebanyakan orang jarang memilih hutang dalam kategori ini karena mereka tidak mengerti dengan konsep leverage. Konsep leverage adalah menggunakan kapasitas di luar kemampuan kita untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Hutang yang baik masuk ke dalam salah satu cara leverage ini. Ketika orang berhutang dengan produktif maka hutang tersebut akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar di masa depan. Perusahaan selalu berusaha menggunakan hutangnya untuk kegiatan yang produktif yaitu dalam mengembangkan bisnis. Hutang itu dikatakan produktif apabila keuntungan yang didapatkan dari hasil berhutang melebihi bunga dari hutangnya. Perusahaan yang ingin berekspansi secara cepat membutuhkan dana pinjaman untuk melakukan ekspansi. Hutang pinjaman inilah yang dinamakan hutang produktif dan merupakan hal yang normal untuk dimiliki. Ketika anda membeli rumah secara kredit juga bisa dikatakan sebagai hutang yang produktif karena harga rumah seringkali naik sepanjang waktu. Mungkin harga rumah yang anda beli saat ini harganya akan naik beberapa kali lipat di masa depan. Oleh karena itu hutang anda akan mampu untuk meningkatkan aset anda yakni dari kenaikan harga rumah anda. Kendati hutang yang baik menghasilkan keuntungan yang lebih namun perlu adanya manajemen hutang yang terkontrol agar hutang tersebut dapat terkendali untuk menghindari potensi hal buruk terjadi di masa depan seperti gagal dalam pembayaran hutang.
Contoh hutang yang baik: hutang untuk mengembangkan bisnis, hutang dalam membeli properti dan hutang dalam investasi yang menguntungkan.

2. Hutang yang Tidak Produktif (Buruk)
Seringkali orang yang berhutang masuk ke dalam kategori yang buruk. Perilaku konsumtif ditambah kemudahan dalam mengajukan kredit membuat orang-orang membeli barang-barang dengan menggunakan hutang. Hutang yang buruk adalah ketika anda membeli sesuatu dengan menggunakan hutang namun nilainya turun di masa depan. Salah satu hutang yang buruk adalah ketika anda membeli mobil baru dengan menggunakan hutang (kredit). Mobil yang anda beli harganya akan langsung turun puluhan persen ketika anda gunakan sedangkan kredit anda tetap berjalan yang nilainya jauh lebih besar di masa depan dibandingkan dengan menggunakan cash. Membeli barang-barang yang sifatnya konsumtif juga sama karena nilainya yang terdepresiasi di masa depan. Lihatlah barang-barang bekas anda seperti smartphone, tas, perangkat elektronik yang misalnya anda ingin jual maka harganya akan turun dalam jumlah yang besar. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa harga barang-barang bekas nilainya turun namun masih banyak orang yang membeli barang-barang tersebut dengan menggunakan hutang. Sebaiknya hilangkan dan hindari hutang yang buruk jika anda tidak ingin hal tersebut membebani keuangan anda.
Contoh hutang yang buruk: hutang dalam membeli mobil, hutang dalam membeli barang konsumtif dan hutang dalam investasi yang buruk.

Kesimpulan:
Terdapat dua jenis hutang yaitu hutang yang baik dan hutang yang buruk. Kunci kesuksesan finansial adalah dengan menggunakan hutang dalam meningkatkan nilai aset dan menghindari hutang yang buruk karena menurunkan nilai aset.

Saya membuka jasa konsultasi investasi saham yang murah dan memiliki track record yang baik. Baca selengkapnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar