Selasa, 22 Januari 2019

Reboundnya Saham Emiten Perbankan BUMN di Akhir 2018

Di tahun 2018 merupakan tahun yang cukup sulit dalam investasi saham karena IHSG sempat turun belasan persen dari awal tahun sebelum akhirnya kembali merangkak naik di akhir tahun. Hal itu juga terjadi pada saham emiten perbankan terutama saham emiten perbankan BUMN. Saham emiten perbankan BUMN juga mengalami penurunan yang signifikan dari awal tahun hingga pertengahan tahun 2018. Namun setelah mengalami penurunan yang signifikan saham emiten perbankan kembali naik dari pertengahan tahun hingga akhir tahun 2018. Investor yang membeli di awal tahun 2018 dan menjualnya di akhir tahun 2018 (cut loss) akan mengalami frustrasi karena harga saham emiten perbankan BUMN kembali naik dari pertengahan tahun hingga artikel ini ditulis. Turunnya harga saham emiten perbankan BUMN adalah hal yang wajar dan berikut ini adalah analisanya:

Bank

1. Mengikuti IHSG
Saham emiten perbankan BUMN cenderung mengikuti pergerakan IHSG. Jadi misalnya IHSG turun belasan persen maka saham perbankan BUMN juga akan mengikuti turun puluhan persen. Begitupula sebaliknya, ketika IHSG kembali naik maka saham emiten perbankan BUMN juga akan naik dan malah lebih pesat. Hal ini karena perbankan BUMN memegang peranan utama dalam menggerakkan ekonomi Indonesia melalui kredit sehingga sentimen investor terhadap perekonomian Indonesia akan langsung mengarah ke saham perbankan BUMN. Oleh karena itu sudah menjadi rahasia umum dan wajar bahwa saham emiten perbankan BUMN bergerak sejalan dengan IHSG dengan catatan bahwa kinerja fundamentalnya bagus.

2. Kinerja yang Bagus
Sebenarnya penurunan harga saham emiten perbankan BUMN di tahun 2018 jelas sekali adalah peluang. Penurunan harga sahamnya tidak ada kaitannya dengan kinerja fundamentalnya. Lihat saja BBRI yang mampu mencatatkan kinerja peningkatan laba bersih +14,6% dan kredit +16,5% pada Q3 2018. Begitu juga BBNI yang mencatatkan peningkatan laba bersih +12,6%. BMRI dan BBTN mencatatkan kinerja peningkatan laba bersih masing-masing sebesar +20% dan +11,5% pada Q3 2018. Hal ini menunjukkan bahwa penuruan harga saham emiten perbankan BUMN lebih disebabkan karena sentimen negatif dari penurunan IHSG dan bukan merupakan kinerja fundamental yang buruk. Rata-rata emiten perbankan BUMN mencatatkan peningkatan kinerja sebesar 10-15% pertahun sehingga cukup bagus untuk jangka panjang. 

3. Valuasi yang Rendah
Penurunan harga saham emiten perbankan BUMN membuat harganya cenderung murah. Contohnya saja BBRI yang sempat berada di level 2900 maka itu berarti sahamnya hanya dihargai dengan PER 12,3 dan PBV 2. Begitupula dengan BBNI yang dihargai dengan PER 9,3 di harga 6800. Sedangkan BMRI dan BBTN dihargai dengan PER masing-masing sebesar 14 dan 7 di harga terendahnya. Dengan valuasi yang rendah tersebut maka wajar saja jika saham perbankan BUMN kembali mencatatkan kenaikan kembali.

Kesimpulan:
Penurunan harga saham emiten perbankan BUMN bukanlah disebabkan oleh fundamentalnya, melainkan karena sentimen negatif dari eksternal yaitu IHSG. Oleh karena itu penurunan harga saham emiten perbankan BUMN pada pertengahan 2018 merupakan peluang untuk investor yang tidak panik dan berani.

Saya membuka jasa konsultasi investasi saham yang murah dan memiliki track record yang baik. Baca selengkapnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar