Sabtu, 19 Januari 2019

Tahun 2018 IHSG Hanyalah Mengalami Koreksi Biasa

Tahun 2018 menjadi tahun yang cukup buruk di pasar saham Indonesia, pasalnya indeks pasar saham Indonesia atau IHSG mengalami penurunan yang signifikan. Sejak dibuka di level 6366 pada Januari 2018 IHSG sempat menyentuh harga terendahnya di 5557 pada Juli 2018. Itu artinya di tahun 2018 IHSG sempat mengalami koreksi sebesar -12% yang merupakan koreksi dan bukanlah bear market karena nilainya tidak melebihi -20%. Sebagai gambaran, suatu pasar dinyatakan koreksi apabila sudah turun lebih dari -10% dan disebut bear market jika sudah turun lebih dari -20%. Oleh karena itu tahun 2018 ini pasar saham Indonesia lebih dapat dikatakan sebagai koreksi dan hanya sesaat karena setelah itu IHSG kembali naik dan rebound hingga menyentuh 6194 pada akhir tahun. Investor yang berani mengoleksi saham pada saat IHSG koreksi di pertengahan tahun mendapatkan keuntungan yang besar dan trader yang cutloss akan mengalami kerugian yang besar dan frustrasi karena pasar kembali naik. Berikut ini adalah poin-poin mengapa koreksi IHSG hanyalah hal yang biasa:
Analisa

1. Faktor Negatif Lebih Dipengaruhi Oleh Eksternal
Faktor yang mempengaruhi IHSG sebenarnya lebih berasal dari eksternal atau luar negeri. Kekhawatiran karena perang dagang Amerika Serikat dengan Cina memicu gejolak perekonomian global. Selain itu krisis di negara berkembang seperti Turki dan Argentina menyebabkan investor menjadi panik dan menjual asetnya yang ada di negara berkembang untuk menghindari hal yang serupa. Ditambah lagi the Fed menaikkan tingkat suku bunga secara kontinyu menyebabkan dana Dollar lebih menarik di mata investor dan menyebabkan banyak pelemahan mata uang di berbagai negara berkembang salah satunya adalah Rupiah Indonesia. Tekanan ini hanya sebatas eksternal dan terlihat pemerintah dengan sigap untuk mengatasi masalah ini dengan melakukan stabilisasi mata uang rupiah.

2. Ekonomi Domestik yang Kuat
Koreksi IHSG di tahun 2018 tidaklah sejalan dengan perekonomian Indonesia yang tumbuh kuat di angka 5,1% dan inflasi terjaga di angka 3,5% itu artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia sangatlah sehat dengan pertumbuhan yang stabil dan inflasi yang terjaga dibawah pertumbuhan ekonomi. Hal ini menyatakan bahwa perekonomian Indonesia baik-baik saja dan cenderung akan mengalami akselerasi karena sebelumnya ekonomi hanya tumbuh sebesar 5% di tahun 2017 dan ekonomi diproyeksi akan bertumbuh sebesar 5,2% di tahun 2019 yang nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018 lalu. 

3. Laporan Keuangan Emiten yang Rata-Rata Bagus
Jika melihat rata-rata industri, laporan keuangan emiten masih dalam kategori baik. Sektor perbankan sebagai indikator perekonomian tumbuh secara moderat pada angka pertumbuhan 10-15%, konstruksi tetap tumbuh diatas 10%, terdapat perbaikan pada sektor properti, consumer goods tetap tumbuh, multifinance bertumbuh pesat dan juga manufaktur. Sektor pertambangan masih mencatatkan pertumbuhan yang signifikan meskipun harganya stagnan dan bearish karena penurunan harga minyak dunia. Dilihat secara garis besar maka emiten-emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia masih mencatatkan kinerja yang cukup bagus dan menjanjikan. Sedangkan harganya yang turun bertolak belakang dengan fundamentalnya yang bertumbuh. Oleh karena itu koreksi di tahun 2018 adalah sebuah peluang dan investor yang memanfaatkan peluang tersebut mungkin sudah merasakan keuntungan karena IHSG kembali naik hingga artikel ini ditulis.

4. Koreksi yang Wajar
Dalam sejarahnya pasar saham tidaklah lurus bergerak keatas, ada masa dimana IHSG mengalami penurunan yang cukup signifikan. Contohnya di tahun di tahun 2015 dan 2013 juga mengalami koreksi belasan persen. Bahkan di saat krisis global tahun 2008 IHSG mengalami penurunan hingga mencapai -50%. Oleh karena itu penurunan IHSG merupakan hal yang wajar terjadi karena bursa saham tidak selamanya bergerak lurus keatas ada fase naik turun yang biasa disebut volatilitas karena saham ditransaksikan setiap hari kerja. Koreksi ini akan mengeliminasi orang-orang yang kurang bijak dalam berinvestasi dan memberikan peluang pada investor untuk menambah posisi pada saham-saham di perusahaan yang bagus.

Kesimpulan:
Meskipun IHSG di tahun 2018 mengalami penurunan yang cukup besar namun itu hanyalah sebatas koreksi biasa dan tidak mencerminkan ekonomi domestik yang terlihat kuat. Oleh karena itu sebenarnya koreksi di tahun 2018 merupakan peluang untuk mengoleksi saham-saham yang bagus dan terbukti IHSG kembali naik setelah mengalami koreksi yang cukup besar.

Saya membuka jasa konsultasi investasi saham yang murah dan memiliki track record yang baik. Baca selengkapnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar