Kamis, 07 November 2019

Rencana Gojek Melantai di Bursa Saham

Gojek berencana untuk melakukan penawaran saham kepada publik umum yang sering disebut dengan Initial Public Offering (IPO). Ekspansi yang pesat membuat Gojek memerlukan dana yang besar untuk melanjutkan perkembangan bisnisnya. Oleh karena itu opsi menawarkan saham kepada publik menjadi lebih nyata karena dana yang dapat diraup dari bursa efek sangatlah besar. Rencana IPO Gojek menjadi salah satu trending dalam berita investasi di Indonesia oleh karena itu dalam artikel ini akan dibahas mengenai poin-poin penting dalam rencana IPO Gojek.

Logo Gojek Baru


1. IPO di Bursa Efek Indonesia
Gojek akan berencana mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Hal ini sudah dipersiapkan oleh manajemen PT Karya Anak Bangsa selaku operator dari aplikasi Gojek. Namun belum ada tanggal pasti kapan Gojek akan melakukan IPO karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Hal ini jelas akan menjadi berita yang sangat populer apabila benar-benar terjadi. Manajemen Bursa Efek Indonesia juga sudah sering me-lobby perusahaan-perusahaan startup Unicorn di Indonesia untuk melantai di Bursa Efek Indonesia. Namun karena terdapat kebijakan dari para investor yang menginginkan kerahasiaan maka IPO pada perusahaan Unicorn menjadi sulit terjadi. 

2. Berencana Dual Listing
Tapi apabila Gojek akan melakukan IPO maka kemungkinan besar Gojek akan melakukannya di lebih dari satu negara. Hal itu karena Bursa Efek Indonesia sulit menampung Gojek yang memiliki valuasi nilai lebih dari US$ 10 miliar atau lebih dari Rp 140 triliun. Bayangkan saja, rata-rata IPO perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia adalah dibawah Rp 10 triliun dan Gojek nilainya yang lebih dari Rp 140 triliun tidak akan dapat tertampung dengan maksimal di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu Gojek menyiapkan opsi Dual Listing yang memberikan kesempatan sahamnya terserap di bursa efek luar negeri yang lebih besar. Namun tidak perlu cemas karena meskipun pilihannya adalah Dual Listing, Bursa Efek Indonesia akan tetap menjadi pilihan wajib karena Gojek merupakan perusahaan karya anak bangsa. Tentunya Gojek tidak ingin mendapatkan nama jelek karena mencatatkan saham di luar negeri tanpa sahamnya dapat dimiliki oleh masyarakat negaranya sendiri Indonesia.

3. Antusias Investor Indonesia yang Tinggi
IPO Gojek akan sangat diminati oleh para investor lokal Indonesia. Bagaimana tidak? IPO Gojek akan menjadi IPO perusahaan startup terbesar di Bursa Efek Indonesia. Banyak investor yang telah menanyakan perihal IPO Gojek pada sebelum-sebelumnya. Perasaan memegang saham perusahaan Unicorn karya anak bangsa sendiri akan menjadi pengalaman baru dan investor juga ingin merasakan keuntungan dari perkembangan bisnis Gojek. Oleh karena itu investor Indonesia akan menyambut baik kedatangan Gojek di Bursa Efek Indonesia

4. Masih Merugi
Kendati laporan keuangan Gojek sulit untuk ditemukan namun tidaklah sulit melihat kondisi keuangan Gojek. Sebagai salah satu startup jasa transportasi umum, Gojek masih merugi besar. Namun hal yang sama dialami oleh Uber dan Grab. Uber telah mencatatkan sahamnya di bursa saham NYSE Amerika Serikat dengan kode NYSE:UBER sehingga laporan keuangannya dapat dilihat. Di tahun 2018 Uber mencatatkan pendapatan sebesar US$ 11,3 miliar namun mencatatkan kerugian bersih sebesar US$ 1,8 miliar. Manajemen Gojek juga mengatakan bahwa kerugian pada segmen transportasi penumpang GoRide dan GoCar bukanlah menjadi masalah. Ini menandakan bahwa segmen tersebut masih dalam keadaan merugi. Padahal segmen tersebut adalah segmen yang paling awal di Gojek yang kemungkinan besar adalah pondasi pendapatan terbesar. Untuk pelayanan lain yang lebih baru seperti GoFood dan GoPay bisa jadi juga merugi karena seringnya promosi.

5. Belum Adanya Kejelasan Profit
Posisi merugi dalam sebuah startup merupakan hal yang sudah menjadi rahasia umum karena model bisnisnya yang membakar uang untuk mencapai pertumbuhan, tidak terkecuali Gojek. Namun investor perlu mempertanyakan atau menganalisa kapan sebuah startup akan mulai memberikan keuntungan. Dalam sebuah bisnis perlu adanya sebuah keuntungan bersih untuk mendukung pertumbuhan yang sehat dan apabila itu tidak tercapai maka perlu adanya bantuan eksternal seperti pendanaan dari investor baru untuk mendapatkan modal. Perusahaan startup yang sama seperti Gojek yaitu Uber telah mencatatkan sahamnya di pasar saham maka itu bisa menjadi contoh. IPO Uber menjadi hal yang sangat diantisipasi investor karena nilai kapitalisasinya yang sangat besar mencapai US$ 82,4 miliar pada harga US$ 45/lembar. Namun efeknya hanya singkat dan saham Uber turun hingga mencapai US$ 27/lembar pada saat artikel ini ditulis. Akibatnya kapitalisasi pasarnya pun jatuh ke US$ 46 miliar. Kerugian Uber yang besar menjadi katalis negatif dari sahamnya dan investor mengkhawatirkan hal tersebut. Gojek juga bisa memiliki kisah yang sama apabila tidak dapat meyakinkan investor mengenai kelangsungan bisnisnya karena pada akhirnya tujuan sebuah bisnis adalah mencetak keuntungan.

Kesimpulan
Rencana Gojek untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia menjadi incaran investor karena potensi mengambil untung atas tren perkembangan bisnisnya. Namun perlu diketahui bahwa sebagai salah satu startup yang sedang membakar uang maka terdapat risiko yang besar di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar