Senin, 27 Januari 2020

Elnusa (ELSA) Menargetkan Pendapatan Tumbuh 8,5% di Tahun 2020

Harga minyak stabil membuat PT Elnusa Tbk (ELSA) optimis dapat membukukan kinerja yang baik di tahun ini. Manajemen Elnusa, menargetkan dapat membukukan pendapatan total hingga Rp 9 triliun tahun ini.

RUPS Elnusa 2019

Hingga Q3 2019 Elnusa mampu meraup pendapatan sebesar Rp 5,91 triliun. Jumlah ini tumbuh 27,6% dari periode yang lalu, di mana pendapatan di Q3 2018 lalu hanya Rp 4,63 triliun. Sementara laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 238,26 miliar di periode Juli hingga September 2019. Hasil ini naik 7,90% dibandingkan periode yang sama di tahun 2018 di posisi Rp 220,80 miliar.

Head of Corporate Communication Elnusa Wahyu Irfan mengatakan, pendapatan perusahaan tahun lalu diestimasikan Rp 8,3 triliun. Ini merupakan angka perkiraan yang belum diaudit lebih lanjut. Ini berarti, pendapatan ELSA pada 2019 tumbuh 26% dibandingkan realisasi pendapatan pada akhir 2018 yang sebesar Rp 6,6 triliun. Sementara pendapatan tahun 2020 diperkirakan tumbuh 8,43% dibandingkan terget pendapatan tahun 2019.

Menganggarkan Rp 1 Triliun Untuk Capital Expenditure di Tahun 2020
Head Investor Relation Elnusa Rifqi Budi Prasetyo mengungkapkan bahwa pada tahun ini perseroan menganggarkan capital expenditure senilai Rp 1 triliun, jumlah itu tercatat sama dengan anggaran pada 2019. Dia mengungkapkan bahwa, perseroan bakal mengalokasikan dana tersebut untuk memperkuat bisnis hulu maupun hilir, serta bisnis penunjang lainnya yang dijalankan perseroan. Rifqi mengatakan bahwa diversifikasi bisnis menjadi salah satu strategi perseroan untuk menunjang kinerja fundamental pada tahun ini.

Pada segmen jasa hulu migas, meningkatnya aktivitas jasa survei seismik dan pengelolaan lapangan minyak mendongkrak pertumbuhan pendapatan usaha. Beberapa proyek besar yang sedang dikerjakan antara lain Tuban East Java–Jawa Timur dan Pesut Mas – Sulawesi Tengah. Sementara itu, pada segmen distribusi. Perseroan terus merevitalisasi beberapa depo dan mengembangkannya sendiri. Di samping itu, Rifqi mengatakan bahwa dampak ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dinilai memberikan pengaruh yang kemungkinan signifikan terhadap pergerakan harga minyak dunia. Dia menyebut, emiten berkode saham ELSA diproyeksikan akan mendapatkan pengaruh atas sentimen tersebut.

Valuasi Harga Saham
Saham ELSA pada saat artikel ini ditayangkan diperdagangkan pada harga Rp 274/lembar. Dengan menggunakan laba bersih 2018 maka saham ELSA memiliki PER sebesar 7,2 dan PBV sebesar 0,6. Dilihat sekilas memang cukup murah namun Elnusa bergerak di sektor minyak dan gas, harga sahamnya dipengaruhi oleh harga minyak dunia. Bila harga minyak naik maka saham ELSA akan mengikuti naik begitupula sebaliknya. Dalam beberapa tahun terakhir pendapatan Elnusa meningkat cukup tinggi dimana pada tahun 2017 Elnusa membukukan pendapatan sebesar Rp 4,97 triliun dan Rp 6,62 triliun di tahun 2018 yang meningkat sebesar 33%. Namun itu tidak dibarengi dengan peningkatan laba bersih yang baik tercatat hanya tumbuh 11,7% pada periode tersebut. Hal demikian terjadi pada Q3 2019 dimana pendapatan tumbuh 27% namun laba bersih hanya tumbuh 8%. Sejak tahun 2016 profit margin Elnusa menurun dimana di tahun 2015 Elnusa memiliki profit margin diatas 9% namun kemudian turun hingga dibawah 6% dalam beberapa tahun terakhir. Hal inilah yang menyebabkan laba bersih Elnusa tidak meningkat pesat seiring tumbuhnya pendapatan.

Kesimpulan
Dilihat dari kinerjanya ELSA memiliki pertumbuhan yang cenderung lambat jika dilihat dari laba bersih walaupun pendapatannya meningkat cukup besar pada 3 tahun terakhir. Namun dengan valuasi yang rendah tersebut saham ELSA bisa menjadi salah satu value stock akan tetapi pertumbuhan pendapatannya yang mulai melambat dan laba bersihnya yang tidak naik tinggi membuat banyak sisi negatif dari saham ELSA. Itulah mengapa dalam beberapa tahun terakhir saham ELSA menurun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar