Kamis, 30 Januari 2020

Erajaya Swasembada (ERAA) Terus Berekspansi Ditengah Kinerja Menurun

PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) berencana untuk menambah 300 ritel baru pada tahun ini setelah tahun lalu berhasil menambah 159 ritel. Direktur Pemasaran dan Komunikasi Erajaya Djatmiko Wardoyo mengatakan bahwa ekspansi akan dilakukan di wilayah kota lapis kedua dan ketiga. Secara total bersih, perusahaan hingga akhir tahun lalu memiliki total 1.049 ritel. Angka tersebut setelah ditutup sejumlah toko yang dirasa kurang efisien.

Gerai ERAA

'Aspirasi tahun ini sebanyak 300 toko mencakup toko monobrand dan multibrand. Pasalnya saat ini penjualan perusahaan hanya kuat di kota-kota besar saja, seperti Jakarta, Bandung, dan lainnya, 'jelasnya. Tak mengherankan pada akhir tahun lalu perusahaan mulai menyisir untuk membuka toko-toko di wilayah Kuningan, Garut, Tasik, Purwakarta hingga Tuban dan Kudus. Menurut Djatmiko, ritel eceran di wilayah kabupaten ini untuk memuluskan saluran omni yang dirintis oleh perusahaan. Belanja modal perusahaan pada tahun ini akan banyak dialokasikan untuk mendukung rencana ekspansi tersebut.

Pada tahun ini, pihaknya masih optimis dengan pertumbuhan ritel dengan ekonomi yang tumbuh stabil dan gejolak politik yang tak terlihat tahun lalu. Namun, pada awal tahun ini pihaknya mewaspadai virus corona yang membayangi perlambatan ekonomi global, khususnya Cina. Sebagai ekonomi nomor dua. Menurutnya, saat ini smartphone masih menjadi penopang penjualan emiten berkode ERAA yakni sebesar 95 persen.

Kinerja Laba Melemah
Dia memperkirakan Pendapatan dan laba tahun ini hanya mampu tumbuh satu digit atau bahkan tidak akan sampai pada 2018 yang lalu. Pada 2018, sebagai distribusi resmi Xiaomi, pihaknya mengantongi penjualan yang senang. Kondisi tersebut yang membuat kinerja pada tahun 2018 tergolong paling gemilang. Kendati demikian pada akhir tahun lalu penjualan perusahaan terbantu dengan masuknya produk iPhone 11 yang diluncurkan pada awal Desember 2019.

'Apakah masuknya produk iPhone mampu menyelamatkan baris atas sepenuhnya pada tahun lalu. Kami belum mengetahuinya, 'jelasnya. Terkait dengan strategi pada tahun ini untuk menggenjot kinerja. Pihaknya akan mendukung sistem integrasi hingga memangkas rantai distribusi.

Sebagai gambaran, berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2019, emiten bersandi saham ERAA ini mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 6,79% yoy menjadi Rp23,61 triliun dari posisi Rp25,33 triliun. Penurunan Pendapatan dipicu oleh penurunannya volume penjualan perangkat seluler yang diperkirakan sekitar 23 persen yoy di sepanjang tahun ini. Selain itu, margin laba perusahaan ikut tertekan pada periode sembilan bulan pertama tahun ini. Marjin laba kotor dan laba operasi masing-masing dinilai sebesar 7,8% dan 1,2% lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,2% dan 3,9%.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar