Rabu, 29 Januari 2020

Fitch Memberikan Peringkat BALI di BBB+(idn)

Fitch Ratings Indonesia telah menetapkan Peringkat Nasional Jangka Panjang 'BBB+(idn)' atas PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI). Outlook adalah Stabil. Pada saat yang bersamaan, Fitch juga telah menetapkan Peringkat Nasional Jangka Panjang 'A(idn)' untuk program obligasi berkelanjutan sebesar Rp 1,6 triliun dan penerbitan Rp 800 miliar fase pertama dari program obligasi berkelanjutan tersebut. PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF, ‘AAA(idn)/ Stabil), suatu lembaga kebijakan di bawah Kementerian Keuangan Indonesia, telah memberikan jaminan kredit parsial sebesar 50% atas obligasi yang diterbitkan dari program obligasi Bali Tower.

Fitch Ratings

Peringkat Bali Tower mencerminkan bauran bisnisnya yang berubah dengan kontribusi yang meningkat dari bisnis fibre, dan kontribusi pendapatan menurun dari bisnis penyewaan menara telekomunikasi. Fitch Ratings memperkirakan FFO adjusted net leverage Bali Tower akan tetap berada di atas 4,5x karena perusahaan akan melanjutkan ekspansi yang didanai utang dalam jangka menengah. Peringkat nasional di kategori 'BBB' menunjukkan ekspektasi akan resiko gagal bayar yang moderat relatif terhadap emiten atau surat utang lainnya di Indonesia. Peringkat nasional di kategori ‘A’ menunjukkan ekspektasi akan resiko gagal bayar yang rendah relatif terhadap emiten atau surat utang lainnya di Indonesia.

Faktor Penggerak Peringkat
Pergeseran Menuju Bisnis Fiber (FTTX): Profil bisnis Bali Tower diuntungkan dari kekuatan bisnis sewa menara yang dimilikinya, yang menyumbang lebih dari 80% dari total pendapatan pada 3Q19. Namun, hal ini diimbangi oleh ekspansi agresif Bali Tower ke bisnis FTTX, yang meningkat kontribusinya terhadap total pendapatan hingga lebih dari 15% pada 3Q19, sebelumnya kurang dari 3% pada tahun 2017. Bali Tower berencana untuk terus mengembangkan jaringan serat optiknya untuk memperluas bisnis FTTX dalam dua tahun ke depan.

Bali Tower

Fitch menilai bahwa bisnis FTTX memiliki risiko yang lebih besar daripada bisnis sewa menara karena bisnis FTTX tidak memiliki pendapatan yang memiliki kontrak dan menghadapi tekanan kompetitif yang lebih tinggi dari pemain lama yang kuat. Bisnis penyewaan menara diuntungkan oleh visibilitas arus kas yang kuat yang berasal dari kontrak jangka panjang dengan operator telekomunikasi. Pada akhir-September 2019, Bali Tower memiliki pendapatan kontrak sebesar Rp 4 triliun dari bisnis penyewaan menara (2018:Rp 3,6 triliun).

Ekspansi yang Didanai Utang: Fitch memperkirakan bahwa arus kas bebas Menara Bali akan terus negatif dalam 24 bulan ke depan karena perusahaan memperluas micro cell pole (MCP) dan jaringan seratnya. FCF negatif Bali Tower sebagian besar akan didanai oleh utang tambahan, yang akan menghasilkan FFO adjusted net leverage tetap berada di atas 4,5x (akhir-2018: 5,8x). Pertumbuhan pendapatan tahunan Bali Tower yang signifikan lebih dari 25% dalam empat tahun terakhir sebagian besar didanai oleh utang dan naik lebih dari Rp 1,7 triliun akhir September 2019, dari Rp 1 triliun pada akhir 2017.

Potensi Erosi Marjin: Perluasan bisnis FTTX oleh Bali Tower dapat mengurangi tingkat keuntungan di 24 bulan ke depan. Marjin EBITDA Bali Tower sebesar 65% pada 3Q19 (2017: 67%) lebih rendah dari margin tiga operator menara teratas di Indonesia di atas 80%, meskipun pendapatan per penyewa menara adalah yang tertinggi di antara perusahaan sejenis. Hal ini disebabkan oleh paparan Bali Tower terhadap bisnis FTTX dengan margin lebih rendah dan rasio co-location yang rendah dari portofolio menara perusahaan. Portofolio Bali Tower sebagian besar terdiri dari MCP yang menghasilkan pendapatan sewa yang lebih rendah daripada menara makro – meskipun ini diimbangi oleh kebutuhan belanja modal yang lebih rendah untuk MCP. Pada akhir September 2019, Bali Tower memiliki rasio co-location kurang dari 1,0x, dibandingkan dengan rata-rata 1,5x dari tiga operator menara teratas.

Peringkat Obligasi Dinaikkan karena Jaminan: Peringkat 'A(idn)' atas obligasi berkelanjutan Rp 1,6 triliun yang dan obligasi sejumlah Rp 800 miliar yang akan diterbitkan pada tahap pertama dari program ini berada dua notch di atas Peringkat Nasional Jangka Panjang Bali Tower. Hal ini karena jaminan kredit parsial 50% dari jumlah pokok dari IIF. Fitch percaya bahwa jaminan parsial akan meningkatkan tingkat recovery kepada pemegang obligasi jika terjadi gagal bayar. Obligasi yang dijamin sebagian akan berperingkat pari passu dengan utang senior dijamin lainnya di tingkat Bali Tower.

Ringkasan Derivasi
Fitch Ratings menilai bahwa profil kredit Bali Tower adalah satu tingkat di bawah profil kredit standalone dari PT Geo Dipa Energi (Persero) di 'a-(idn)'. Kedua perusahaan diuntungkan oleh visibilitas arus kas yang timbul dari kontrak jangka panjang yang menghasilkan margin EBITDA yang kuat di atas 60%. Risiko counterparty Geo Dipa Energi lebih baik daripada Bali Tower sebagai karena produsen tenaga panas bumi tersebut menghasilkan 100% dari arus kasnya dari perusahaan utilitas milik negara PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN; BBB/Stabil). Sebagai perbandingan, paparan Bali Tower terhadap counterparty yang memiliki peringkat investment grade kurang dari 60%. Belanja modal Bali Tower lebih oportunistik dibandingkan dengan Geo Dipa Energi, yang didasarkan pada perjanjian pembelian daya yang telah memiliki kontrak dengan PLN.

Fitch Ratings memperkirakan FFO adjusted net leverage Geo Dipa Energi akan meningkat menjadi sekitar 4,0x pada tahun 2021, disebabkan oleh ekspansi yang didanai hutang, sedikit lebih rendah dari Bali Tower sekitar 4,5x. FFO fixed charge coverage dari Geo Dipa Energi juga akan tetap di atas 3,0x selama periode ekspansi, di atas Bali Tower sekitar 1,7x. Resiko counterparty, leverage, dan coverage yang lebih baik menghasilkan peringkat satu tingkat lebih tinggi untuk Geo Dipa Energi dibandingkan dengan Bali Tower.

Asumsi-Asumsi Utama
Asumsi Utama Fitch dalam Peringkat untuk Emiten:
  1. Pertumbuhan pendapatan 20%-25% pada 2020-2021 (perkiraan 2019: sekitar 26%)
  2. Marjin EBITDA 64%-65% pada 2020-2021 dengan kontribusi yang semakin besar dari bisnis FTTX (perkiraan 2019: 65%)
  3. Belanja modal Rp 350 miliar-420 miliar pada 2020-2021 (perkiraan 2019: Rp 300 miliar)
  4. Tidak ada dividen yang dibayarkan selama 2020-2021

Sensitivitas Peringkat
Perkembangan Yang Dapat, Secara Individual atau Kolektif, Mengarah ke Tindakan Pemeringkatan Positif
  • FFO adjusted net leverage turun di bawah 4,5x untuk periode yang berkelanjutan
  • FFO fixed charge coverage naik di atas 2,0x untuk periode yang berkelanjutan
  • Perkembangan Yang Dapat, Secara Individual atau Kolektif, Mengarah ke Tindakan Pemeringkatan Negatif
  • FFO adjusted net leverage naik di atas 5,5x untuk periode yang berkelanjutan
  • FFO fixed charge coverage turun di bawah 1,5x untuk periode yang berkelanjutan
  • Memburuknya posisi likuiditas
Likuiditas dan Surat Utang
Ketergantungan pada Pembiayaan Kembali: Pada akhir September 2019, Bali Tower memiliki sekitar Rp 5 miliar kas dibandingkan Rp 685miliar pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo. Fitch memperkirakan CFO yang akan dihasilkan Bali Tower tidak akan cukup untuk menutupi amortisasi hutang tahunan di atas Rp 200 miliar per tahun pada tahun 2020 dan 2021. Bali Tower berencana untuk menggunakan hasil dari obligasi Rupiah yang akan diterbitkan untuk menutupi kekurangan arus kas dan mendanai ekspansi. Fitch memperkirakan bahwa pembiayaan kembali akan terjadi karena Bali Tower memiliki akses pendanaan yang memadai ke bank lokal dan pasar obligasi domestik. Meskipun demikian, likuiditas yang lebih lemah, yang mungkin ditunjukkan oleh akses pendanaan yang lebih lemah, akan berakibat negatif untuk profil kreditnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar