Sabtu, 25 Januari 2020

Garuda Indonesia (GIAA) Emiten Dengan Manajemen yang Buruk

Beberapa waktu terakhir publik dihebohkan dengan adanya skandal penyelundupan onderdil Harley Davidson dan dua sepeda Brompton yang dilakukan oleh Garuda Indonesia. Kasus ini terungkap oleh pihak Bea Cukai dan langsung dilakukan penyelidikan pada Garuda Indonesia untuk mengungkap siapa dalang sebenarnya dari kejadian tersebut. Penyelidikan ini bahkan melibatkan kementrian BUMN untuk mengatasinya. Menteri BUMN Erick Thohir memberikan peringatan agar pelakunya untuk mengakui perbuatannya agar mendapatkan keringanan. Namun tidak ada yang mengaku bertanggung jawab pada skandal tersebut hingga akhirnya penyelidikan menetapkan Direktur Utama Garuda Indonesia yaitu Ari Askhara sebagai pelakunya. Akhirnya dengan cepat Dirut Garuda tersebut dicopot oleh Erick Thohir dari jabatannya dan diumumkan kepada publik. 

Skandal Garuda Indonesia 2019

Masalah skandal Garuda Indonesia terjadi pada saat kepemimpinan Ari Askhara yang resmi menjabat sebagai Dirut Garuda Indonesia sejak September 2018 menggantikan Pahala Mansury melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Hal itu pernah terendus dari laporan keuangan Garuda Indonesia yang janggal pada tahun 2018 yang mencatatkan hal positif meskipun mengalami kerugian besar di tahun 2017. Kepemimpinan Ari Askhara selama ini sebagai Dirut Garuda Indonesia menjadi dipertanyakan. Masih banyak masalah lain ditubuh Garuda Indonesia pada masa kepemimpinan Ari Askhara dan berikut ini rinciannya:

1. Dugaan Duopoli Garuda Indonesia dengan Lion Air
Awal tahun 2019, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan pemeriksaan atas 2 maskapai penerbangan terkait indikasi  praktik kartel atau duopoli kenaikan tarif tiket pesawat dan biaya kargo. Mereka adalah Garuda Indonesia Group, yakni Garuda Indonesia, Citilink Indonesia dan Sriwijaya Air serta Lion Air Group (Lion Air, Batik Air dan Wings Air). Setelah melakukan serangkaian penyelidikan sejak Februari, pada 5 Juli lalu KPPU memutuskan untuk menaikkan penyelidikan kasus kartel tiket pesawat ke tingkat pemberkasan.

2. Rangkap Jabatan Direktur Garuda Indonesia
21 Januari 2019, KPPU mengumumkan hasil penyelidikan atas dugaan pelanggaran rangkap jabatan direksi Garuda Indonesia di susunan komisaris Sriwijaya Air. Nama Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara, Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah, dan Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo juga menjabat sebagai Dewan Komisaris dan Dewan Direksi Sriwijaya Air, pasca Sriwijaya Air yang memutuskan bergabung menjadi bagian dari Garuda Indonesia Group. Mereka dianggap melanggar pasal 26 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam UU itu,  seseorang yang menduduki jabatan sebagai direksi atau komisaris dari suatu perusahaan pada waktu yang bersamaan dilarang merangkap menjadi direksi atau komisaris apabila berada dalam pasar yang sama, keterkaitan erat di bidang yang sama, dan menguasai pangsa pasar yang menyebabkan terjadinya monopoli.

3. Garuda Indonesia Diduga Monopoli Umroh
Akhir Maret 2019, Garuda dilaporkan oleh para pengusaha travel haji dan umrah Kalimantan Selatan atas dugaan praktik monopoli tiket maskapai Garuda kepada KPPU. Mereka protes terhadap kebijakan Garuda dalam pembelian tiket pesawat Garuda tersebut saat gelar pertemuan dengan KPPU Balikpapan di Hotel Rattan Inn Banjarmasin. KPPU kini masih menyelidiki dugaan praktik monopoli ini.

4. Kasus Laporan Keuangan Garuda
RUPSLB Garuda Indonesia 24 April 2019 menguak perseterundi manajemen Garuda. Adalah laporan keuangan Garuda yang jadi soal.  Garuda Indonesia mencatat laba bersih sebesar US$809.850  di sepanjang 2018. Angka ini setara Rp 11,33 miliar.  Capaian kinerja Garuda Indonesia ini melonjak dibanding 2017 yang merugi US$216,5 juta. Dalam RUPSLB Garuda, komisaris maskapai ini Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menolak laporan keuangan Garuda tersebut. Komisaris Garuda keberatan dengan pengakuan pendapatan Garuda Indonesia atas transaksi Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan, antara PT Mahata Aero Teknologi dengan PT Citilink Indonesia, anak usaha Garuda. Manajemen Garuda Indonesia yang dipimpin Ari Askhara sudah mengakui pendapatan dari Mahata sebesar US$239,94 juta.  Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), hingga Kementerian Keuangan (Kemenkeu) turun tangan dalam laporan keuangan Garuda ini. Kemenkeu kemudian menjatuhkan sanksi kepada Akuntan Publik (AP) Kasner Sirumapea dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan, sebagai auditor laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018.
Garuda juga kena sanksi OJKdengan  denda Rp 100 juta. Direksi Garuda yang tanda tangan laporan keuangan Garuda Indonesia dikenakan masing-masing Rp 100 juta. Secara kolektif direksi dan Komisaris Garuda Indonesia minus yang tidak tanda tangan, dikenakan kolektif Rp 100 juta. Garuda Indonesia juga diminta untuk menyajikan lagi (restatement) laporan keuangan tahun buku 2018. Garuda juga kena sanksi BEI berupa Peringatan Tertulis III dan denda sebesar Rp250 juta.

5.  Serikat Pekerja Garuda Ancam Mogok
Bulan April 2019, sempat beredar pemberitahuan rencana pemogokan karyawan Garuda Indonesia yang mengatasnamakan Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG). Mereka kecewa atas pernyataan pemegang saham Garuda Indonesia, Chairul Tanjung yang menolak laporan keuangan tahun 2018 yang dinilai menyebabkan harga saham Garuda Indonesia jatuh.

6. Seteru Garuda Indonesia dengan Youtuber Rius Vernandes
Berawal di tanggal 13 Juli 2019,  Youtuber Rius Vernandes menunggah kartu menu Garuda dalam bentuk secarik kertas dari kelas bisnis Garuda Indonesia rute Sydney-Denpasar. Postingan menu Garuda ini membawa Rius dilaporkan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang ITE tentang  pencemaran nama baik. Adalahserikat karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) yang melaporkannya.
Atas pelaporan serikat pekerja Garuda ini, Rius lantas dipanggil oleh pihak kepolisian Senin (17/9).Kasus ini akhirnya berakhir secara kekeluargaan antara Garuda Indonesia dengan Rius. Laporan Rius di kepolisian dicabut. Dirut Garuda Ari Askhara kemudian memperbolehkan Rius mengulas penerbangan Garuda kelas pertama secara cuma-cuma.

7. Peringkat Garuda Indonesia di Dunia Turun
Garuda harus rela peringkatnya dalam dunia penerbangan turun. World Airline Awards dari Skytrax menempatkan kru kabin Garuda Indonesia pada posisi kedua dalam kategori World's Best Cabin Crew, turun satu peringkat dari tahun sebelumnya. Selain itu, Garuda Indonesia juga turun peringkat pada kategori World's Best Economy Class Airlines di posisi 11 setelah pada tahun lalu berada pada posisi 7.

8. Penyelundupan Onderdil Harley dan Sepeda Brompton
Desember 2019, Dirut Garuda Ari Askhara terlibat dugaan menyelundupan motor gede Harley dan sepeda Brompton. Dirut Garuda itu dipaksa mengakhiri karirnya di Garuda oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Menurut Erick, pencopotan dilakukan berdasarkan bukti laporan dari komite audit  Garuda Indonesia pada tahun 2018. Audit Garuda itu menyebutm adanya permintaan dari Direktur Utama Ari Askhara yang memberikan instruksi untuk mencari Harley Davidson tipe klasik. 

Kesimpulan:
Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa emiten Garuda Indonesia (GIAA) memiliki manajemen yang sangat buruk dalam menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Pemilihan Ari Askhara sendiri pun menimbulkan banyak pertanyaan yang mengaitkannya pada hubungan politik dengan menteri BUMN sebelumnya. Namun setidaknya skandal yang terjadi pada Garuda Indonesia lebih terjadi pada kepemimpinan Ari Askhara yang saat ini digantikan posisinya oleh Irfan Setiaputra yang ditunjuk pada RUPSLB pada 22 Januari 2019. Nama Irfan Setiaputra sendiri tidaklah asing pada BUMN karena beliau pernah menjabat sebagai Direktur Utama sebuah BUMN sektor telekomunikasi yaitu PT INTI Persero pada tahun 2012-2014. Posisi terakhirnya bekerja adalah sebagai CEO dari PT Singfox Indonesia, sebuah perusahaan teknologi berbasis IoT. Untuk kedepannya diharapkan Garuda Indonesia dapat bertransformasi untuk memperbaiki kesalahan manajemen sebelumnya. Namun untuk prospek investasi saham GIAA sangat berisiko karena masih dalam spekulasi apakah manajemen yang baru dapat memperbaiki masalahnya dan laporan keuangannya yang masih dalam kondisi merugi membuatnya kurang prospek untuk investasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar