Jumat, 24 Januari 2020

Kenapa Harga Komoditas Lebih Fluktuatif?

Sebuah aset adalah sesuatu yang memiliki nilai. Terdapat banyak aset berwujud dan aset yang tak berwujud berupa aset yang diperdagangkan untuk investasi dan trading. Untuk siapapun yang ingin berinvestasi dengan modalnya maka fluktuasi harga dari sebuah aset merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Komoditas

Fluktuasi atau volatilitas adalah perubahan harga dari sebuah aset dalam jangka waktu tertentu. Semakin jauh perubahannya dari rendah ke tinggi dalam harian, mingguan, bulanan atau jangka waktu yang lama maka akan semakin besar pula fluktuasi harganya begitupun sebaliknya. Beberapa aset cenderung lebih berfluktuasi dibandingkan yang lain dan ini sering menjadi variasi dalam sebuah pasar yang membuatnya menarik atau tidak menarik kepada para pelaku pasar yang memiliki profil risiko berbeda. Ketika memilih aset untuk investasi ataupun trading, salah satu yang perlu diperhatikan adalah variannya.

Volatilitas Adalah Sebuah Surga Bagi Para Trader Tapi Sebuah Neraka Bagi Investor
Aset yang memiliki volatilitas tinggi cenderung mengundang para trader aktif dibandingkan investor. Ketika harga sebuah aset memiliki volatilitas yang tinggi, itu akan mengundang lebih banyak spekulasi dan aktivitas trading jangka pendek. Oleh karena itu, pasar dengan perubahan harga yang besar menjadi surga seorang trader karena kesempatan yang besar dalam waktu yang singkat dan menjadi neraka bagi investor yang mana lebih menyukai pasar yang stabil.

Volatilitas Pada Ekuitas
Kelompok aset ekuitas termasuk saham pada perusahaan dan juga indeks yang menggambarkan volatilitas dari pasar secara menyeluruh atau sektor pada kelompok ekuitas. Investasi dan trading menjadi yang pilihan yang paling populer bagi investor.

Meskipun tidak semua saham memiliki volatilitas yang sama, saham yang berada pada indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) atau S&P 500 memiliki kesamaan beta sepanjang waktu. Tentu saja, terdapat periode dimana harga saham akan bergerak dengan sangat besar. Pada krisis pasar saham di tahun 1929, 1987 dan krisis finansial global pada tahun 2008 merupakan contoh waktu dimana saham bergerak menurun secara drastis. Karena Amerika Serikat merupakan ekonomi yang stabil di dunia, saham di Amerika Serikat cenderung kurang berfluktuasi dibandingkan dengan yang lain di dunia. Berbicara mengenai volatilitas pada S&P 500, sejarah volatilitas dalam kuartalnya cenderung dibawah 10%. Dalam dua dekade yang lampau, pasar saham bergerak dari yang terendah sebesar 5,35% hingga tertinggi di angka 27,23% pada krisis finansial 2008.

Volatilitas Surat Hutang
Surat hutang atau obligasi adalah instrumen hutang yang memberikan sebuah bunga kepada debiturnya. Setiap pemerintahan di berbagai belahan dunia menerbitkan surat hutang, begitu juga perusahaan. Investor dan trader yang aktif pada pasar surat hutang akan melihat periode yang berbeda beserta dengan grafik yield bunganya. Investor surat hutang jangka panjang cenderung melihat besarnya pendapatan sementara instrumen hutang jangka pendek lebih berfluktuasi.

Di Amerika Serikat ketika berbicara mengenai hutang pemerintah, bank sentral atau Federal Reserve biasa disebut the Fed mengatur kurva yieldnya. Fed Fund Rate merupakan nilai bunga pada bang dan credit union yang meminjamkan uang. Komite pasar terbuka dari Federal Reserve mengontrol dan mengatur Fed Funds Rate. Discount rate merupakan bunga minimal yang diatur Federal Reserve di Amerika Serikat untuk meminjamkan ke bank yang lain. Hal ini juga terjadi pada Indonesia dimana Bank Indonesia yang merupakan bank sentral Indonesia mengatur tingkat suku bunga.

Sementara bank sentral mengatur tingkat suku bunga, harga dari surat hutang dan instrumen hutang yang memiliki jatuh tempo lebih diatur oleh pasar. Tingkat bunga jangka pendek dapat mempengaruhi tingkat bunga jangka menengah dan jangka panjang. Trader surat hutang sering kali mengambil posisi beli dan jual tergantung pada pandangan mereka mengenai suku bunga. Posisi beli surat hutang yang panjang merupakan sebuah prediksi bahwa suku bunga akan turun sementara posisi jual merupakan sebuah prediksi bahwa suku bunga akan naik. Kebanyakan trader surat hutang akan menaruh posisi mengikuti kurva yield. Investor di pasar surat hutang mencari yield yang aman dan konsisten untuk aset investasinya. Sejarah volatilitas dalam kuartal untuk surat hutang pemerintah AS dalam jangka waktu 30 tahun memiliki rentang 6,22% hingga 17,5% dalam lebih dari dua dekade. Volatilitas menjadi lebih tinggi ketika terjadi krisis finansial 2008.

Volatilitas Pasar Uang
US Dollar merupakan mata uang devisa di dunia karena Amerika Serikat merupakan ekonomi terbesar dan terstabil di dunia. Fluktuasi pasar uang cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kelompok aset yang lain karena pemerintah mengontrol percetakan uang dan peredarannya dalam sistem pasar keuangan dunia. Volatilitas mata uang bergantung pada stabilitas pemerintahannya. Oeh karena itu, US Dollar diperdagangkan dengan volatilitas yang lebih rendah dibandingkan Ruble Rusia, Real Brazil dan mata uang yang lain yang kurang likuid dan kurang diminati untuk menjadi mata uang devisa dari berbagai belahan dunia. Sejarah volatilitas US Dollar secara kuartal sejak lebih dari tiga dekade lalu berkisar antara 4,37% hingga 15% namun seringkali dibawah 10%.

Komoditas
Volatilitas dari komoditas cenderung yang tertinggi dibandingkan kelompok aset yang lain pada artikel ini. Volatilitas secara kuartal dari minyak bumi memiliki rentang dari 12,63% hingga 90% sejak 1983. Rentang yang sama terjadi pada natural gas yang memiliki rentang 22,56% hingga lebih dari 80%. Volatilitas secara kuartal dari kacang kedelai memiliki rentang 10% hingga lebih dari 75% sejak 1979 dan rentang pada jagung mulai dari dibawah 12% hingga 48% pada periode yang sama. Volatilitas secara kuartal pada pasar berjangka gula memiliki rentang 10,5% hingga lebih dari 90% dan juga pada pasar berjangka kopi dan perak memiliki rentang yang hampir sama.

Lalu yang terakhir emas merupakan komoditas yang paling berharga. Dimana bank sentral di seluruh dunia menyimpan logam kuning ini sebagai aset cadangan yang memiliki dua fungsi yakni sebagai logam atau komoditas dan sebuah aset finansial. Oleh karena itu, memiliki rentang dalam kuartal dari 4% hingga lebih dari 40% sejak pertengahan 1970 yang menunjukkan pentingnya harga emas. Dari contoh yang diberikan, volatilitas komoditas sepanjang waktu sangat tinggi dan terdapat berbagai macam alasan mengapa komoditas lebih berfluktuasi dibandingkan aset lain.

5 Alasan Komoditas Lebih Berfluktuasi
Sebagai aset, komoditas menarik minat investor sepanjang waktu tapi aktivitas tersebut cenderung datang ketika periode pasar sedang naik. Dalam satu dekade terakhir investor dikenalkan pada jenis instrumen investasi baru yang diperdagangkan pada pasar biasa yaitu product Exchange Traded Fund (ETF) yang memberikan tambahan pilihan pada pelaku pasar. Sebelum adanya produk tersebut, jalan satu-satunya untuk berinvestasi di komoditas bagi orang yang tidak memiliki akun pasar berjangka adalah dengan memiliki dan menyimpan komoditas dalam bentuk fisik atau berinvestasi dengan membeli saham pada perusahaan yang memproduksinya.

Untuk sebagian besar, komoditas menjadi investasi alternatif namun untuk trader di dunia, volatilitasnya yang besal membuatnya menjadi pilihan aset yang memiliki peluang kesempatan besar dalam jangka pendek. Komoditas lebih berfluktuasi dibandingkan dengan aset lain karena lima hal yaitu:

1. Likuiditas
Ekuitas, surat hutang dan pasar uang menarik perdagangan dalam jumlah yang besar setiap hari. Membeli dan menjual kelompok aset tersebut selalu bertumbuh setiap tahun dengan jumlah yang besar. Namun, banyak komoditas yang diperdagangkan pada pasar berjangka yang memberikan likuiditas rendah atau volume perdagangan yang rendah dibandingkan dengan aset umum yang lain. Ketika minyak dan emas merupakan komditas yang paling likuid untuk diperdagangkan, komoditas tersebut dapat menjadi sangat berluktuasi.

2. Kejadian Alam
Kejadian alam menentukan musim dan bencana alam yang datang di berbagai beahan dunia dari waktu ke waktu. Sebuah gempa bumi di Chili yang merupakan produsen tembaga terbesar di dunia, dapa menyebabkan kenaikan harga dari tembaga tersebut. Di tahun 2012 musim yang dingin membuat meningkatnya kebutuhan akan gas alam dan membuat harga kontrak berjangka untuk komoditas energi menjadi meningkat drastis.

3. Pasokan dan Kebutuhan
Hal yang paling mempengaruhi dari harga komoditas adalah pasokan dan kebutuhan. Produksi komoditas terjadi pada area di dunia dimana tanah atau iklim mendukung tanaman, dimana terdapat cadangan yang terbukti di kerak bumi dan biaya pengambilannya dibawah biaya pasar. Kebutuhan, di lain sisi sangat random. Hampir setiap manusia yang ada di planet bumi adalah konsumen dari komoditas yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, pasokan dan kebutuhan untuk bahan mentah yang menjadikannya sebagai aset paling fluktuatif di dunia jika dilihat dari harga.

4. Geopolitik
Karena cadangan komoditas ada pada area tertentu di planet ini maka isu politik pada suatu wilayah seringkali mempengaruhi harga. Sebagai contohnya, ketika Iraq menyerang Kuwait di tahun 1990, harga minyak bumi naik dua kali lipat dalam beberapa minggu saja diikuti oleh pasar berjangka minyak bumi NYMEX dan Brent Crude Oil Futures. Ketika presiden Amerika Serikat melepaskan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR), harganya terpotong hingga setengahnya.

Ditambah lagi, peperangan dan kerusuhan pada suatu wilayah di dunia dapat menutup rute logistik seperti Panama Canal yang membuatnya sulit atau tidak mungkin untuk memindahkan komoditas dari area produksi ke zona konsumsi di dunia. Tarif, subsidi pemerintah atau alat politik lainnya seringkali mengubah dinamika harga untuk sebuah komoditas yang menambah volatilitas.

5. Leverage
Rute tradisional untuk trading atau investasi di komoditas adalah dengan pasar berjangka. Pasar berjangka memberikan leverage yang tinggi. Seorang pembeli atau penjual dari sebuah kontrak berjangka hanya membutuhkan sebuah pembayaran yang kecil atau deposit, margin, untuk mengontrol nilai yang lebih besar dari sebuah komoditas. Nilai margin terendah cenderung antara 5% dan 10% dari total nilai kontrak untuk sebuah komoditas. Oleh karena itu, leverage di pasar berjangka komoditas membuat trader dan investor dapat memiliki nilai komoditas yang besar dengan modal yang kecil. Apabila terdapat perubahan kontrak tersebut maka itu akan memberikan dampak yang besar pada pasar komoditas karena nilai kontraknya yang sangat besar.

Kesimpulan:
Komoditas cenderung menjadi aset yang paling fluktuatif. Mengerti dan menganalisa volatilitas adalah hal yang penting untuk investor dan trader. Ketika menganalisa profil risiko dan imbal hasil dari aset apapun, volatilitas merupakan ukuran statistik untuk membantu mengetahuinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar