Minggu, 02 Februari 2020

Rencana Bisnis PP Presisi di Tahun 2020

PT PP Presisi (PPRE) menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20% pada tahun 2020. Sejumlah proyek baru di sektor pertambangan sedang diincar untuk memuluskan kinerja perseroan di tahun ini. 

PP Presisi

Fokus di Konstruksi Sektor Pertambangan
Direktur Keuangan PP Presisi Benny Pidakso menuturkan, pada tahun ini proyek-proyek yang dikerjakan perseroan akan lebih banyak dari sektor non konstruksi secara umum, namun lebih mengarah kepada konstruksi pertambangan. “Kami sudah membicarakan dengan beberapa perusahaan tambang terbesar di Indonesia, jadi mereka akan melakukan pengembangan infrastruktur pertambangan, seperti jalan hauling, dan juga pengangkutan batu bara. Mudah-mudahan ini menuju ke arah yang positif untuk perolehan kontrak baru 2020,” ujar Benny di Jakarta. Benny menambahkan, apabila perseroan mendapatkan kontrak dari proyek tambang tersebut maka potensi nilai investasi yang didapatkan bisa lebih dari Rp 1 triliun. “Saya belum bisa sebutkan nilai investasinya, tapi tinggal menentukan aspek bisnisnya kedepan bagaimana. Potensinya cukup besar, bisa lebih dari Rp 1 triliun,” katanya. 

Tidak hanya dari eksternal, lanjut Benny, proyek yang didapatkan perseroan pada tahun 2020, juga ada yang dikontribusi dari grup internal PT PP. “Proyek besarnya dari internal, yaitu pembangunan tol Semarang- Demak, kita tinggal tunggu kontrak dari PT PP,” ucapnya. Sementara itu, Benny belum bisa menyebutkan secara rinci jumlah anggaran belanja modal (Capital expanditure/ capex) yang disiapkan pada tahun ini. Namun sebagai gambaran, jumlah capex tidak akan melebihi Rp 1 triliun. “Capex akan kami gunakan untuk investasi alat berat, di sektor konstruksi maupun pertambangan,” ujarnya. Hingga kuartal III 2019, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 2,22 triliun, naik 11,55% dibanding periode sama tahun 2018 sebesar Rp 1,99 triliun. Sedangkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk naik 6,01% menjadi Rp 201,08 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 189,68 miliar per September 2018. 

Di sisi lain PP Presisi bersama PT Sepuluh Sumber Anugerah mendirikan perusahaan patungan (joint venture) yang bergerak dalam bidang aktivitas remediasi dan pengelolaan limbah. Benny menjelaskan, pendirian perusahaan patungan ini dilakukan untuk mengambil peluang pada bisnis remediasi dan reboisasi lahan-lahan paska proyek pertambangan. Direktur Utama PP Presisi Iswanto Amperawan menuturkan, beberapa kontrak eksplorasi minyak yang menjelang berakhir seperti Chevron di Riau, dimana lahan yang nanti akan ditinggalkan kontraktor tersebut wajib melakukan rehabilitasi dan reboisasi, sehingga memerlukan dana yang sangat besar. “Teknologi rehabilitasinya dari korea, dengan besarnya peluang tersebut kita bekerja sama dengan pemilik teknologi tersebut untuk bisa meraih pasar di bisnis tersebut,” kata dia. 

Rencana Buyback Saham 
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Jumat, (31/1) menyetujui rencana perseroan melakukan pembelian kembali saham (buyback). Rencananya buyback akan dilakukan dengan alokasi dana sebanyak-banyaknya Rp 293 miliar. Menurut Benny, kisaran harga buyback akan mengacu pada harga saham PPRE selama 90 hari terakhir. Namun dia menegaskan, buyback tidak akan dilakukan jika harga saham perseroan mendekati IPO pada perkembangannya. “Jadi kita mengikuti harga yang ada di pasar, buyback tidak akan kami lakukan jika harganya mendekati harga IPO,” ungkapnya. Lebih lanjut, Benny menegaskan, tujuan buyback agar dapat meningkatkan likuiditas, dan harga saham PPRE di pasar. “Kemudian, saham yang kita buyback, adalah saham di publik. Mekanismenya bid offer yang ada di pasar. Jadi tidak ada special tender atau offer, nantinya menggunakan mekanisme pasar,” ujarnya. Benny menuturkan, dari aksi korporasi ini diharapkan, pasar akan mengapresiasikan harga saham PPRE sesuai dengan kondisi fundamental & likuiditas perseroan yang kuat. Selain itu, aksi buyback ini ditujukan agar perseroan mencapai struktur permodalan yang efisien dan dan memungkinkan menurunkan biaya modal keseluruhan. “Serta fleksibilitas yang lebih besar dalam rangka mengelola modal jangka panjang serta pengelolaan kelebihan arus kas dengan cara yang efisien dan benar, di samping meningkatkan Earning Per Share (EPS) serta Return on Equity (ROE) secara berkelanjutan”, pungkas Benny.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar