Minggu, 03 Mei 2020

Bank Indonesia Memperkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 7% di 2021

Kendati saat ini Indonesia sedang dilanda bencana wabah COVID-19, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 akan berada pada kisaran 6,6 persen-7,1 persen yang salah satunya didukung oleh stimulus fiskal dari pemerintah.

Pertumbuhan Ekonomi

"Meletakkan ekonomi 2021 akan naik tinggi, mencapai sekitar 6,6-7,1 persen, karena memengaruhi stimulus fiskal pemerintah sekitar 3,1-4 persen terhadap PDB," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat kerja virtual dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Kamis.

Perry mengatakan Peningkatan defisit fiskal yang dapat mendorong peningkatan belanja yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja keuangan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga diperlukan oleh pengembangan dari program kredit pembangunan kembali dan dunia usaha, serta peningkatan pinjaman pembangunan pada 2020 untuk pemulihan ekonomi dari COVID-19.

"Peningkatan pertumbuhan ekonomi global juga dapat mendorong ekspor Indonesia," tambah Perry. Ia menambahkan anggaran pertumbuhan pada 2021 juga akan didukung oleh peningkatan investasi di dalam negeri karena mendukung reformasi struktural, termasuk Hukum Omnibus.

Dalam kesempatan ini, Perry juga memaparkan proyeksi tingkat pendapatan pada 2021 yang terkendali pada kisaran target tiga persen plus minus satu persen. Proyeksi tersebut ditopang oleh ekspektasi yang sesuai dengan target, ditingkatkan dengan pasokan sesuai dengan normalnya, perdagangan dunia, nilai tukar yang menguat, dan hubungan kebijakan pengangkutan melalui TPI dan TPID.

Selain itu, nilai tukar rupiah juga diperkirakan menguat pada kisaran peringkat rata-rata Rp14.900-Rp15.300 per dolar AS seiring dengan peningkatan pendapatan global dan meningkatnya pasar keuangan dunia. Pergerakan nilai tukar rupiah pada tahun 2021 partisipasi tingkat bunga tetap terhadap investor Indonesia, dan tingkat imbal hasil investasi Indonesia yang menarik.

Sebelumnya, untuk 2020, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 2,3 persen, karena adanya COVID-19 yang mengurangi konsumsi dan investasi serta menyebabkan kontraksi pada ekspor dan impor.

Meskipun demikian, estimasi yang rendah dan stabil pada kisaran sasaran tiga persen plus minus satu persen karena adanya sisi permintaan yang terkendali, kredibilitas kebijakan moneter dan koordinasi kebijakan pengawasan di pusat dan daerah.

Rata-rata nilai tukar rupiah pada tahun 2020 diperkirakan berada pada kisaran Rp15.100-Rp15.500 per dolar AS sesuai dengan berbagai pilihan yang telah dilakukan terkait untuk menyelamatkan uang mata uang karena menghasilkan COVID-19.

Namun tentu saja hal tersebut bergantung pada seberapa lama wabah COVID-19 akan berlangsung. Apabila wabah COVID-19 dapat selesai dengan cepat terutama apabila telah terdapat vaksin yang dapat diproduksi secara massal maka pemulihan ekonomi tersebut dapat tercapai. Namun apabila wabah berlangsung dalam waktu yang lama, ancaman penyebaran gelombang kedua dan banyak negara yang berada di krisis ekonomi sehingga merusak ekosistem ekspor impor maka pertumbuhan tersebut sulit tercapai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar