Rabu, 13 Mei 2020

Menteri Keuangan Menargetkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,5-5,5% di Tahun 2020

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati mengasumsikan pertumbuhan ekonomi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 sebesar 4,5-5,5 persen.

Menkeu Sri Mulyani

"Dengan mempertimbangkan segala risiko dan ketidakpastian yang ada, serta potensi pemulihan ekonomi global dan nasional di tahun depan," ujar Sri Mulyani dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, 12 Mei 2020.

Belakangan, merebaknya wabah Virus Corona telah berdampak signifikan kepada pertumbuhan ekonomi di Tanah Air maupun global. IMF, misalnya, menurunkan proyeksinya hampir sebesar 6 persen dari proyeksi awal tahun.

Pada Januari 2020, IMF masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 3,3%. Namun, pada April 2020 proyeksi itu dikoreksi menjadi -3,0 persen. Koreksi juga terjadi pada realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada triwulan I 2020 hanya mencapai 2,97 persen.

"Hal ini mengindikasikan tekanan lebih berat akan dialami sepanjang tahun 2020, yang artinya pertumbuhan ekonomi terancam bergerak dari skenario berat sebesar 2,3 persen menuju skenario sangat berat yaitu kontraksi -0,4 persen," tutur Sri Mulyani.

Dengan kondisi tersebut, Sri Mulyani mengatakan kebijakan fiskal tahun 2021 mengangkat tema 'Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Reformasi'. Tema tersebut selaras dengan tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2021 yaitu 'Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial'. Pemilihan tema tersebut berkaitan dengan kondisi Indonesia yang menghadapi tantangan setelah mewabahnya virus Corona alias Covid-19 pada tahun ini.

Berkaitan dengan tema tersebut, fokus pembangunan Indonesia tahun depan adalah pada pemulihan industri, pariwisata, dan investasi, reformasi sistem kesehatan nasional dan jaring pengaman sosial serta reformasi sistem ketahanan bencana. "Fokus pembangunan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali mesin ekonomi nasional yang sedang berada dalam momentum pertumbuhan," ujar Sri Mulyani.

Angka tercatat dalam dokumen kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEMPPKF) tahun 2021. "KEMPPKF disusun di tengah pandemi yang penuh ketidakpastian akibat Covid-19, sampai saat ini belum bisa dipastikan kapan dan bagaimana bisa di atasi," kata Sri Mulyani saat rapat paripurna di gedung DPR, Jakarta, Selasa.

Usulan asumsi dasar pemerintah dalam dokumen KEMPPKF sebagai berikut :
  • Pertumbuhan ekonomi antara 4,5-5,5 persen.
  • Inflasi sebesar 2,0 persen sampai 4,0 persen.
  • Tingkat suku bunga SPB 3 bulan 6,67 persen sampai 9,56 persen.
  • Nilai tukar rupiah berada di angka Rp 14.900 per dolar AS sampai Rp 15.300 per dolar AS.
  • Harga minyak atau ICP dikisaran 40 dolar AS sampai 50 dolar As per barel.
  • Lifting minyak berada di antara 677-737 ribu barel per hari.
  • Lifting gas sebesar 1.085 ribu sampai 1.173 ribu setara minyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar