Rabu, 03 Juni 2020

Update COVID-19 Global: 382.500 Orang Tewas dan 6.452.000 Orang Terinfeksi

Pada 3 Juni 2020 jumlah kasus COVID-19 yang menyerang dunia telah mencapai lebih dari 6.452.000 kasus dan menyebabkan 382.500 orang meninggal dunia. Berikut ini adalah peristiwa penting di dunia yang terjadi pada tanggal 2 Juni 2020.

George Floyd Protest
Protes George Floyd Memperparah Penyebaran Virus Corona di Amerika
Amerika Serikat (AS) punya dua masalah yang harus dihadapi dalam waktu bersamaan. Selain demonstrasi besar-besaran atas kematian George Floyd karena perilaku rasis, kini AS harus berhadapan dengan ancaman gelombang kedua wabah pandemi corona (COVID-19).

Para ahli kesehatan khawatir bahwa pertemuan massa yang banyak akan memicu kasus baru kembali naik. Apalagi masyarakat berdemo tanpa jarak sosial.

"Apa yang kita lihat (dari demo) adalah eksperimen yang sangat disayangkan, yakni penularan virus COVID," kata Direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di University of Minnesota Michael Osterholm, dikutip dari ABC News.

Osterholm juga menyayangkan petugas polisi yang menembakkan gas air mata dan semprotan merica. Asap, gas air mata dan semprotan merica menyebabkan batuk. Batuk dapat menularkan aerosolisasi virus. Ini meningkatkan risiko penyebaran COVID-19.

Belum lagi, ada sekitar 5.600 demonstran yang ditangkap sebagaimana didata The Associated Press. Mereka akan memadati penjara dan duduk di dalam kendaraan dalam jarak dekat dan waktu yang lama. Ini pastinya menimbulkan potensi kasus baru. Osterholm menjelaskan hal inilah yang dapat meningkatkan risiko penularan virus selanjutnya.

Meskipun pejabat pemerintah telah memperingatkan demonstran tentang risiko kesehatan yang ditimbulkan selama masa pandemi, hal ini sepertinya tidak digubris warga. Karenanya sejumlah wali kota di negara bagian meminta warga yang ikut berdemo memeriksakan diri.

"Jika Anda keluar memprotes tadi malam, Anda mungkin perlu menjalani tes COVID minggu ini... karena masih ada pandemi di Amerika yang menewaskan orang kulit hitam dan coklat," kata Wali Kota Atlanta Keisha Lance Bottoms .

Pengujian COVID-19 harus secepatnya dilakukan untuk menghindari menulari orang lain. Sebab kebanyakan orang yang terinfeksi virus ini mengalami gejala dalam 14 hari setelah terinfeksi dan dapat menyebarkan penyakit beberapa hari sebelum merasa sakit.

"Jika Anda keluar memprotes dan kembali ke rumah, Anda mungkin ingin karantina untuk sementara waktu," kata Simone Wildes, spesialis penyakit menular di South Shore Health.

"Kamu tidak tahu apa yang akan kamu bawa pulang ke orang tua, kakek nenek, anggota keluarga lain yang mungkin memiliki kondisi mendasar yang menempatkan mereka pada risiko yang lebih tinggi."

AS kini menduduki posisi nomor satu dengan angka kasus penularan terbanyak secara global. Per Rabu dari Worldometers, AS memiliki 1.881.205 kasus terjangkit, 108.059 kematian, dan 645.974 pasien berhasil sembuh.

Turkey Membuka Kembali Setelah Lockdown
Turki telah membuka kembali restoran dan kafe dan banyak area publik lainnya, karena pemerintah semakin meringankan pembatasan penguncian pada hari Selasa. Banyak fasilitas lain termasuk taman, pantai, kolam renang, pusat kebugaran, perpustakaan dan museum dibuka kembali di seluruh negeri. Pasar Grand Bazaar abad ke 15 yang ikonik di Istanbul juga dibuka kembali sementara jutaan karyawan sektor publik kembali bekerja.

Turki, dengan populasi 83 juta, telah mencatat lebih dari 4.500 kematian terkait virus dan lebih dari 160.000 infeksi. Pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan secara bertahap melonggarkan pembatasan selama beberapa minggu terakhir.

Pemerintah Turki menyombongkan keberhasilannya dalam menangani wabah dan mencegah Turki menjadi pusat virus. Para pejabat mengatakan pandemi sekarang di bawah kendali, tetapi telah berulang kali memperingatkan warga untuk menghormati aturan yang menjauhkan sosial dan mengenakan topeng di luar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar